RINGKASAN BUKU
Menerobos Dunia Anak
·
Kebutuhan
Kasih
Para
ahli psikologi beranggapan bahwa kebutuhan yang paling penting dari seorang
anak adalah kasih, dalam segala waktu ia perlu dikasihi. Kasih adalah hal yang
paling mudah dirasakan, anak-anak biasanya tahu apakah orangtua mereka
benar-benar mengasihi mereka atau tidak. Kasih orangtua tidak bisa digantikan
dengan materi. Kasih yang berdasar pada materi hanya memberikan kesenangan
sementara dan tidak dapat memuaskan kebutuhan jiwanya. Kasih datang dari Allah,
tetapi kasih itu dapat disalurkan kepada anak-anak melalui orangtua atau orang
lain. Oleh sebab itu, seandainya orangtua dan guru mengatakan, "Kalau kamu
melakukan ini, maka Allah tidak mengasihi kamu," maka hal itu sulit untuk
diterima oleh anak karena mereka membutuhkan kasih tanpa syarat. Adakalanya
kita harus menggunakan cara yang khusus agar mereka merasa dikasihi. Dalam
kebudayaan orang timur, para orangtua tidak biasa untuk menyatakan kasih secara
terus terang, karena kebudayaan telah membuat orangtua tidak begitu
terang-terangan menyatakan kasihnya sehingga anak sulit merasakan kasih sayang
orangtua. Kasih seharusnya dinyatakan melalui sentuhan, perkataan, sikap, dan
perilaku. Bila anak-anak sejak kecil dapat merasakan dirinya dikasihi, maka ia
pun belajar mengasihi orang lain. Oleh sebab itu, orangtua harus selalu
memperhatikan kebutuhan dasar anaknya, yaitu kebutuhan kasihnya.[1]
·
Kebutuhan
Rasa Aman
Anak memerlukan rasa aman, baik
dalam segi jasmani maupun emosi, khususnya pada masa bayi di mana ia berada
dalam kondisi yang tak berdaya. Jadi orangtua harus memberikan suasana yang
aman. Contoh:
1. Letakkan atau simpan
barang-barang yang mudah membuat anak luka di tempat yang aman, misalnya: kaca,
gunting, korek api, benda-benda elektrik, dan sebagainya.
2.
Menghadapi suasana yang baru, biarkan anak-anak memegang erat tang
·
Pendidikan
Tentang Doa
Sewaktu "Doa Bapa Kami"
diucapkan, adakah anak mengerti akan maknanya atau hanya sekadar dihafal begitu
saja? Atau dapatkan anak menjadi pandai berdoa dengan mengulangi terus doa
tersebut? Tidaklah cukup hanya dengan memberitahukan bahwa anak-anak harus berdoa,
tetapi perlu mengajar mereka supaya tahu BAGAIMANA BERDOA. Untuk membantu
pertumbuhan kehidupan berdoa anak, perhatikanlah beberapa pembahasan di bawah
ini:
Isi
Dari Doa
1. Ibadah: Merasa hormat dan
kagum terhadap kasih, kebaikan, kuasa, dan hikmat Allah.
2. Pengakuan Dosa: Mengaku segala
kesalahan yang telah dilakukan dan memohon pengampunan dari Allah.
3. Pengucapan Syukur: Selalu
mengucap syukur untuk segala sesuatu yang telah dikaruniakan Tuhan.
4. Permohonan: Belajar berdoa
kepada Allah, dalam nama-Nya untuk meminta hal-hal yang sesuai dengan kehendak
Allah.
5.
Syafaat: Belajar melalui doa memperhatikan orang lain, juga berdoa untuk
kebutuhan orang lain.
·
Anak
Suka Mencuri
Pengertian Tentang Anak Yang Suka
Mencuri
Mencuri berarti mengambil barang
milik orang lain. Dapat dikatakan bahwa hampir semua anak yang bermasalah
memiliki masalah perilaku ini. Misalnya, di panti asuhan anak nakal, persentase
anak-anak yang suka mencuri sangat tinggi.
Jenis
Pencurian
Pencurian
dapat dibagi dalam beberapa jenis:
1. Terencana Pencurian ini
dilakukan dengan terencana rapi sehingga tidak mudah diketahui.
2. Tak Terencana Pencurian
dilakukan tanpa rencana detail.
3. Insidental Perilaku pencurian
dilakukan secara tiba-tiba dan sewaktu-waktu saja.
4. Kebiasaan Pencurian sudah
menjadi kebiasaannya dan juga berulang-ulang dilakukan.
5. Memilih Yang dicuri hanya
barang-barang tertentu yang dipilihnya.
6. Asal Mengambil Barang apa saja
semua dicuri, tidak peduli benda itu berharga atau tidak berharga.
7. Perorangan Pencurian dilakukan
secara sembunyi-sembunyi dan sendirian, tanpa diketahui orang lain.
8. Kelompok Mencuri secara
berkelompok dan umumnya dilakukan dalam kelompok atau geng anak-anak nakal.
9. Mencopet Hampir sama dengan
jenis asal mengambil (no.6), hanya dilakukan lebih terencana.
10.
Merampok Pencurian dilakukan dengan masuk ke rumah orang, dengan menggertak dan
melakukan kejahatan.
·
Penyebab
Masalah
Sebab dasar dari sifat mencuri
adalah karena kejatuhan manusia ke dalam dosa sehingga mengakibatkan manusia
sejak kecil cenderung berbuat dosa. Dari fakta ini dapat ditemukan beberapa
unsur sebagai berikut:
1. Adanya keinginan untuk memiliki.
Karena keinginan untuk memiliki begitu menggoda, maka anak melakukan pencurian.
Keinginan ini dapat timbul karena anak sering kurang mampu
menguasai diri. Ini biasa terjadi bila anak
terlalu dilindungi. Anak akan lebih sering lagi mencuri bila orang tua tidak
menyelidiki mengapa barang atau uang dalam rumah sering hilang, atau ibu tahu
anak telah mengambil barang di toko, lalu dibayarkan secara diam-diam. Dengan
demikian anak semakin terjerumus ke dalam kebiasaan yang buruk. Penyebab lain
bisa karena anak lahir dari keluarga miskin. Kemiskinan telah merisaukan
dirinya. Apa yang menjadi kebutuhannya tidak dapat terpenuhi, selain dengan
mencuri.
2.
Tidak ada pendidikan moral dalam keluarga. Dalam keluarga harus ada pendidikan
moral yang benar. Sekalipun pada hal-hal yang kecil, namun bila disertai dengan
ketamakan akan merangsang anak untuk mencuri, baik itu mencuri bunga, buah,
alat-alat atau barang-barang milik orang lain. Tidak adanya pendidikan moral
dalam keluarga akan mudah menjadikan anak-anak mempunyai kebiasaan mancuri.
3.
Sekadar menarik perhatian. Ada anak yang mencuri karena ingin menarik perhatian
orang tua atau gurunya. Apabila ia tidak dapat memperoleh perhatian dengan cara
yang benar, maka ia melakukannya dengan cara mencuri untuk memperoleh perhatian
itu. Upaya menarik perhatian itu meskipun negatif, bahkan mungkin ia dimarahi
atau dihukum, tetapi konsekuensi itu lebih baik daripada tidak diperhatikan.
Tindakan pencurian ini lebih karena unsur kekurangan moral ketimbangan masalah
kejiwaan.
4.
Mengharapkan untuk diterima. Kadangkala ada anak yang memiliki perasaan rendah
diri, tetapi sangat berharap untuk dapat diterima, namun tidak ada bakat yang
menonjol atau paras muka yang cakap yang dapat dijadikan alasan untuk diterima.
Oleh karena itu supaya dapat diterima sebagai teman, ia lalu mencuri uang dan
dengan uang curian, ia mengundang makan dan memegahkan diri di hadapan
teman-temannya.
5.
Terperangkap oleh jiwa yang memberontak. Anak merasa tidak puas setelah ditegur
dan dihukum oleh orang tua atau guru, lalu mencuri untuk melawan. Ada juga anak
yang karena merasa ayah dan ibunya lebih mencintai saudara yang lain, ia
mencuri untuk melawan.
6.
Ingin menonjolkan rasa kebersatuan. Karena ingin menonjolkan rasa kebersatuan
yang tinggi, seorang anak melakukan pencurian bersama-sama dalam satu kelompok.
Dalam kelompok itu, mereka merasakan adanya suasana kebersamaan dan juga
timbulnya rasa kebanggaan terhadap kepahlawanan seseorang sehingga mencuri
dianggap sebagai terobosan untuk menikmati kebahagiaan.
7. Gejala penyakit. Mencuri
merupakan gejala penyakit. Ini mungkin terjadi karena konflik dalam jiwanya
sehingga mengalami karakter yang terbagi dan perilakunya berbeda dengan
biasanya.
·
Penyelesaian
Masalah
Bagaimana membantu anak untuk mengatasi masalah
kebiasaan suka mencuri ini? Diharapkan beberapa cara penyelesaian di bawah ini
dapat memberikan petunjuk kepada orang tua dan guru.
1.
Mencukupi kebutuhan anak. Banyak anak suka mencuri karena keinginan yang
dibutuhkan belum terpenuhi. Sebaiknya orang tua mengoreksi diri, apakah ada
kebutuhan anak yang belum dicukupi? Kelalaian itu bisa terjadi dalam bentuk:
tidak memberi makanan yang bergizi, atau tidak menyediakan alat tulis yang
dibutuhkan, atau keperluan sehari- hari lainnya. Semuanya itu akan membuat anak
tergoda untuk melakukan pencurian.
2.
Memberi perhatian yang cukup. Ada pencurian karena adanya ketidakstabilan dalam
jiwa anak. Orang tua yang sibuk hanya tahu mencukupi kebutuhan anak secara
materi, tetapi melalaikan kebutuhan rohaninya. Bila anak itu sehat, puas dan
stabil jwanya, tidak mungkin ia mencuri untuk mencari perhatian orang dewasa.
3.
Mengenali pergaulan anak. Ketika diketahui anak mulai suka mencuri, segera
selidiki lebih dahulu tentang teman-temannya. Apakah ia bergaul dengan teman-
teman yang berperangai buruk, yang menganggap mencuri itu satu keberanian atau
mereka diancam untuk mencuri. Jika benar teman- teman itu yang bermasalah, maka
dengan sabar orang tua harus mengajar anak dan menjelaskan akibat buruk dari
mencuri itu.
4.
Menyelidiki motivasinya. Selain unsur di atas, mungkin masih ada motivasi yang
tersembunyi yang mendorong anak itu mencuri. Cobalah untuk mengetahui kehidupan
sosial anak itu, mungkin mereka sedang berpacaran atau sedang terjerumus pada
obat-obat terlarang seperti: ganja atau minuman keras. Bila orang tua dengan
teliti menyelidiki motivasi anak mencuri, maka akan lebih mudah mengatasi
masalahnya.
5.
Memasukkan konsep nilai yang benar. Sejak kecil orang tua sudah harus mendidik
perbedaan antara "ini milik kamu" dan "ini milik saya".
Jangan membiarkan anak sembarangan mengambil barang orang lain. Kalau dalam tas
atau di saku ditemukan barang milik teman, anak harus segera mengembalikannya.
Menerapkan konsep yang benar harus disertai dengan teladan yang baik supaya
anak tidak tamak terhadap hal apa pun sekalipun itu hal yang kecil atau
sembarangan meminjam barang milik orang lain. Berikanlah penghargaan dan pujian
bila mereka mampu mengurus atau mengatur barangnya sendiri.
6. Melakukan usaha secara bersama.
Jika anak sendiri tidak berniat untuk membuang kebiasaan yang jelek, meskipun
orang tua atau guru memaksa atau menekan mereka, hasilnya tetap akan sia-sia.
Usahakanlah untuk bekerja sama dengan anak, menasihati dan menjelaskan
sebab-akibat dari tindak mencuri, atau membantu mereka untuk mencari jalan ke
luar yang bisa dilakukan, kemudian berdoalah bersama mereka agar bersandar pada
anugerah Tuhan untuk hidup dalam kemenangan.
7. Mendidiknya dalam kebenaran. Bunyi
perintah dalam Sepuluh Hukum Allah sangat jelas, "Jangan mencuri!"
(Kel. 20:15). Hati nurani manusiapun berbicara bahwa mencuri itu dosa dan Allah
akan menghukum dosa itu. Apabila anak itu dalam kelemahannya telah berbuat
dosa, berikan pengertian bahwa ia tetap dikasihi, apalagi oleh Allah. Apabila
sebagai orang dewasa dapat memaafkan mereka, maka Allah pun dapat mengampuni
mereka. Pujilah Tuhan, seperti apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus, bahwa
"segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan
kepadaku" (Flp. 4:13). Setelah dibimbing, anak mungkin masih dapat lupa
dan jatuh lagi, tetapi dengan seringnya diingatkan serta diawasi dan didoakan,
tetap ada pengharapan bahwa Allah akan mengubah mereka dan mengenakan jubah
yang baru kepada mereka sehingga buah kebenaran dihasilkan melalui dan di dalam
hidup mereka. [2]
Anak
yang Penakut
Pengertian
Masalah
Ketakutan adalah suatu reaksi emosi
yang timbul karena adanya ancaman yang ada di benaknya. Ungkapan perasaan ini
dapat menyatakan adanya ketidakseimbangan dalam jiwanya, misalnya menjadi cemas
dan gugup, atau juga menyatakan reaksi fisiknya seperti jantung yang berdebar
cepat. Kadang-kadang dengan hati yang penuh ketakutan dapat menghindarkan diri
dari bahaya dan menolong diri untuk tetap berusaha memiliki semangat hidup.
Hal-Hal
Yang Membuat Anak Takut :
·
Takut terhadap orang asing.
Sebagian pakar ilmu jiwa beranggapan
bahwa takut terhadap orang asing merupakan pengalaman yang harus ditempuh oleh
seorang anak pada masa pertumbuhannya, khususnya seorang bayi. Untuk mencegah
takut ini menjadi hal yang berkepanjangan, sebaiknya orangtua mengusahakan agar
anak lebih banyak bertemu dan bergaul dengan orang lain, misalnya membawanya ke
rumah kerabat atau sahabat dan bermain dengan anak sebaya. Usaha ini harus
dilakukan dengan sabar dan jangan terburu-buru atau sedikit dipaksa. Seorang
guru Sekolah Minggu pun harus dapat dengan sabar mendorong anak untuk bergaul
dengan orang yang dianggap asing sampai akhirnya berkenalan dan terjalin
hubungan yang baik dengannya.
·
Takut berpisah dengan orangtua.
Anak usia satu tahun sering
mengalami ketakutan. Baru setelah semakin besar, anak bisa mengerti bahwa
perpisahan itu hanya sementara. Namun bila sampai berkelanjutan dapat
menimbulkan masalah. Jadi orangtua perlu membina kepercayaan anak terhadap
dirinya. Berlakulah jujur dan terus terang mengatakan ke mana, apa tujuan
orangtua pergi dan kapan mereka kembali. Kepercayaan anak terhadap orangtua
dapat memberikan rasa aman kepadanya dan menghilangkan ketakutannya sewaktu
harus berpisah dengan orangtua.
·
Takut terhadap benda aneh.
Anak yang masih kecil penuh dengan
daya imajinasi dan masalah akan timbul bila daya imajinasinya dikuasai oleh
ketakutan. Mereka sering takut kepada benda/binatang aneh karena ia
membandingkan apa yang ada dalam pikirannya tentang cerita hantu, nenek sihir,
dan yang lainnya. Mereka belum mampu membedakan antara yang khayal dan yang
nyata. Cara menolong mereka ialah dengan memperhatikan acara teve yang
ditonton, buku cerita/ dongeng yang dibaca, dan kemudian memberikan pengertian
bahwa kebanyakan cerita hantu, nenek sihir, dan sebagainya itu hanyalah cerita
khayalan belaka, dan membimbing mereka untuk percaya bahwa dengan penyertaan
Tuhan Yesus, mereka tidak perlu takut.
·
Takut terhadap binatang atau serangga.
Ini merupakan gejala lain yang
menimbulkan ketakutan bagi seorang anak, bahkan bisa berlanjut hingga masa
remaja. Binatang yang ditakuti umumnya adalah anjing, tikus, kecoa, laba-laba,
dll. Untuk mengurangi ketakutan terhadap binatang bersikaplah ramah terhadap
binatang yang tidak dapat melukai. Buanglah konsep ajaran yang salah yang
ditimbulkan dari gambar/kartun, buku cerita atau dari acara teve mengenai
binatang-binatang. Beritahukan bahwa ada kebaikan dari setiap binatang,
misalnya anjing untuk menjaga rumah dan bila tidak diganggu, anjing tidak akan
menggigit. Beberapa binatang ada yang mengeluarkan suara yang menakutkan, itu
sebenarnya hanyalah ciri dari binatang itu sendiri, seperti manusia juga ada
yang bicara dengan suara keras. Allah menciptakan beraneka macam binatang dan
semuanya baik adanya serta Allah berpesan agar kita memelihara dan melindungi
mereka (Kejadian 1:26).
·
Takut akan kegelapan.
Bukan saja anak yang takut pada
kegelapan, tetapi ada juga orang dewasa yang takut pada kegelapan; ini
merupakan gejala yang umum. Ketakutan ini biasanya dinyatakan bila anak tidak
mau tidur bila tidak ditemani ibu, lampu tidak boleh dipadamkan, takut pada
suara-suara atau bayang-bayang. Pencegahan mudah dilakukan, yaitu dengan
mengajak mereka bermain "petak-umpet", di mana anak ditutup matanya
dan disuruh mencari, atau dengan menyalakan lampu kecil/lampu tidur,
menemaninya sampai tidur dan menyalakan lampu di luar agar ada sinar yang masuk
ke ruang tidur. Atau pintu kamar dibuka dan lampu dipadamkan. Cara terbaik
adalah dengan meyakinkan pada mereka Allah beserta mereka, ajak mereka sebelum
tidur berdoa untuk menolong meyakinkan bahwa Allah beserta mereka sehingga
tidak perlu takut.
·
Takut pada petir/kilat.
Bencana alam mengakibatkan banyak
orang kehilangan rumah atau meninggal. Peristiwa mengerikan itu sering
ditayangkan di layar teve dan sangat mempengaruhi baik anak maupun orang dewasa
yang menyaksikannya. Petir/kilat yang keras juga merupakan fenomena alam yang
menakutkan. Bagaimana membantu anak yang takut pada petir? Bila ada tanda akan
ada petir/kilat, pangkulah si anak dan mengajaknya bersama untuk melihat sinar
petir/kilat itu dari jendela rumah sambil menjelaskan dari mana asal petir.
Sikap demikian dapat menenangkan anak dari ketakutannya, ditambah pula dengan
penjelasan bahwa Allah adalah pencipta alam semesta, bencana alam tidak akan
terjadi bila tidak dikehendaki Allah.
·
Takut pergi ke dokter.
Banyak anak takut pergi ke dokter
umum atau dokter gigi. Oleh sebab itu, banyak dokter yang dengan bermacam upaya
mengusahakan supaya anak dapat merasa tenang dan nyaman sewaktu diperiksa,
misalnya dengan mainan untuk menghilangkan ketakutan anak. Dapat juga melalui
permainan dokter-dokteran untuk mempersiapkan hati anak ketika mau pergi ke
dokter. Usahakan jujur ketika anak bertanya apakah sakit bila gigi ditambal,
misalnya dengan jawaban seperti, "Kalau lubang gigi itu besar akan sakit
bila ditambal, tetapi kalau tidak ditambal, akan lebih sakit lagi."
Mendampingi mereka atau mengajak mereka berdoa di depan dokter gigi ketika gigi
mereka akan dicabut, dapat mengurangi ketegangan, ketakutan, serta rasa sakit
mereka.
·
Takut pergi ke sekolah.
Akan menjadi masalah bila sampai
usia sekolah, anak masih takut untuk pergi ke sekolah. Perasaan takut ini disimpan
bertahun- tahun di bawah sadarnya, dan akibatnya anak menjadi rendah diri,
sering gagal, gelisah dalam belajar, dan sulit berkonsentrasi ketika belajar.
Selain masalah pelajaran, juga ada masalah keluarga sehingga anak mengalami dua
tekanan yang membuat mereka takut untuk terus maju. Sewaktu menghadapi ujian,
karena terlalu tegang, mereka lupa apa yang sudah dipelajari. Lambat laun
mereka takut bertemu dengan guru, teman, dan juga takut pergi ke sekolah.
Tidaklah bijak bila membantu anak ini dengan gertakan, sebaiknya dengan sabar
orangtua memberi dorongan untuk menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman;
jangan membiarkan ia menyendiri di sekolah, jangan mengkritiknya bila gagal.
Penyelesaian
Masalah
·
Menguasai
lingkungan.
Mengatur suatu lingkungan pengalaman
yang menyenangkan supaya perasaan ketakutan secara perlahan-lahan menjadi
hilang. Misalnya anak yang takut gelap, biarkan dia perlahan-lahan mendekati
sendiri kegelapan itu, bermain tutup mata untuk mencari sesuatu, atau dengan
memasang lampu yang bersinar lembut untuk mendampingi mereka tidur malam. Bantu
mereka bertumbuh dalam lingkungan yang nyaman.
·
Meredakan ketegangan.
Untuk menenangkan emosi yang sedang
mencekam, suruhlah anak menarik napas panjang, kemudian tangan diulur ke depan
sambil dikepalkan dan diam sejenak, selanjutnya angkat kaki kiri dengan kedua
tangan dieratkan dan diamkan sejenak, lalu ganti kaki kanan dan lakukan gerakan
tadi. Ulangi terus gerakan-gerakan tersebut sampai anak merasa tenang dan tidak
tegang lagi.
·
Menggunakan daya imajinasinya.
Menolong anak menghilangkan rasa
takutnya dapat juga dengan menggunakan daya imajinasinya. Anak dibimbing untuk
berimajinasi bagaimana Yesus menemani mereka di dokter atau pada waktu duduk di
kursi dokter gigi.
·
Mempelajari sesuatu melalui observasi.
Bila orang dewasa gugup, anak pun
akan ikut gugup, namun mereka dapat dibimbing melalui observasi belajar untuk
mengurangi rasa takut dan gugup itu. Caranya adalah dengan menyuruh mereka
belajar dari teman sebaya sewaktu menghadapi situasi yang sama, tetapi tidak
takut, atau dengan menyaksikan film di acara teve di mana anak dapat menghadapi
situasi yang tegang tetapi tetap dapat tenang.
·
Menjelaskan konsep dengan tepat.
Salah dalam menggunakan daya
imajinasi atau kurangnya pengetahuan umum dapat membuat anak takut pada sesuatu
yang belum diketahuinya. Memberikan penjelasan tentang asal mula gejala- gejala
yang membuat mereka takut akan sangat menolong mereka.
·
Memberikan pujian.
Mungkinkah memberi pujian dapat
mengurangi rasa takut seseorang? Pujian bukan hanya memberikan sesuatu benda,
tetapi bisa juga dalam bentuk seperti: ucapan semangat yang mendorong atau
memberikan hak/wewenang. Misalnya, bila ia berani melakukan apa yang tadinya
ditakuti, ia boleh menonton teve dengan waktu yang lebih panjang, atau bermain
lebih lama. [3]
Anak Hiperaktif
Pengertian Tentang Anak Hiperaktif
Anak yang hiperaktif umumnya
bersifat agresif, penuh semangat, tidak dapat tenang, sulit diajar, tidak tahan
lama melakukan satu aktivitas. Biasanya juga sulit bergaul dengan teman sebaya,
tidak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru dan juga sulit menaati
orangtua dan guru. Setelah dewasa umumnya mengalami masalah dalam emosi, suka bermabuk-mabukan
atau melakukan pelanggaran hukum. Sebenarnya keaktifan itu tidak mereka
inginkan, namun mereka sulit untuk duduk dengan tenang dan memperlambat gerakan
mereka karena mereka didorong oleh suatu kekuatan yang sulit dijelaskan, dan
sulit diubah. Pada tahun 1845, Dr. Heinrich Hoffmann mengumpulkan cerita
anak-anak yang berisi pelajaran moral dan kemudian melalui penelitian tersebut
mengunakan istilah yang berbeda untuk melukiskan sifat hiperaktif. Dan melalui
pengamatan, kira-kira di tahun 1902, Dr. G.F. Still menguraikan bahwa ada
beberapa perilaku tertentu yang menjadi ciri anak-anak tersebut. Tetapi sebelum
menyelidiki secara akurat, ia sudah tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan
bahwa perilaku tersebut adalah hasil dari kesalahan pendidikan keluarga.
Setelah itu dalam banyak tahun bermunculanlah istilah-istilah, seperti:
perhatian, deficit disorder, masalah perilaku fungsional, dyslexia, sindrom
anak hiperaktif, sindrom impulsif hiperkinetik, ketidakmampuan dalam belajar,
sindrom kerusakan otak minimal, ketidakmampuan belajar secara khusus, dan
sebagainya.
Pernyataan Masalah
·
Masalah intelek.
Anak
hiperaktif jelas mengalami gangguan dalam otak. Ia sulit menentukan mana yang
penting dan mana yang harus diprioritaskan terlebih dulu, selain sulit
menyelesaikan pelajaran, sering tidak dapat berkonsentrasi dan pelupa.
Adakalanya mereka sulit mengerti pembicaraan orang secara umum, apalagi
terhadap petunjuk yang mengandung langkah-langkah atau tahapan-tahapan. Ia
sulit menggabungkan satu hal dengan hal lainnya, kurang kendali diri, tidak
dapat berencana atau menduga apa akibat yang dilakukannya, susah bergaul,
kemampuan belajar lemah. Daya pikir penangkapannya lemah sehingga sulit untuk
menghadapi pelajaran matematika. Karena mengalami luka di otak, mereka sering
tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan, khususnya ketika masuk ke suasana
kelas yang dinamis, emosinya menjadi mudah terangsang. Perilaku yang sulit
diduga itu kadang membuat orangtua, guru atau teman-temannya merasa khawatir.
Kadangkala mereka sadar harus
mematuhi peraturan, tetapi tidak mampu mengendalikan diri. Ia juga mengalami
kesulitan dalam mengutarakan pikiran dan perasaan melalui kata-kata, sering
kacau dalam menanggapi citra yang diterima, misalnya: "m" dengan
"w", "d" dianggap "b" atau "p" dianggap
"q", dan sebagainya sehingga mengalami kesulitan dalam membaca.
·
Masalah biologis.
Mereka suka sekali berlari-lari dan
sulit untuk menyuruh mereka diam, sepertinya sedang begitu sibuk melakukan
sesuatu sehingga tidak dapat beristirahat, meraba, dan menyentuh benda-benda
untuk merasakan lingkungan di sekitarnya, suka berteriak dan ribut, semangatnya
kuat. Anak hiperaktif juga peka terhadap bahan kimia, obat, bulu, debu, dan
barang kosmetik. Mereka juga sensitif terhadap makanan tertentu, seperti:
coklat, jagung, telor ayam, susu, kedelai, daging, babi, gula, dan gandum.
Mereka sulit tidur dengan nyenyak dan mudah terbangun, dan kebiasaan tidur
mereka bermacam-macam: ada yang bermimpi sambil berjalan, menggigau atau
mengompol. Mereka tidak dapat berolahraga dengan banyak gerak dan banyak
tenaga, seperti bersepeda atau lompat tali. Sebaliknya gerakan tenang pun
bermasalah, misalnya bila disuruh menulis, mewarnai, atau menggambar, mereka
tidak dapat menggunakan alat tulis dengan baik.
·
Masalah emosi.
Anak hiperaktif umumnya bersifat
egois, kurang sabar, dan emosional, bila berbaris selalu berebutan, tidak sabar
menunggu, bermain kasar, suka merusak, tidak takut bahaya, dan sembrono
sehingga besar kemungkinan bisa mengalami kecelakaan. Pernyataan emosinya
sangat ekstrim dan kurang kendali diri. Juga emosi sering berubah-ubah sehingga
tidak mudah diduga, kadang begitu senang dan ceria, tetapi sebentar kemudian
marah dan sedih. Seorang ahli berpendapat bahwa yang sangat dibutuhkan mereka
adalah melatih mereka untuk dapat mengendalikan diri.
·
Masalah moral.
Karena mengalami berbagai masalah
seperti di atas, maka mereka pun tidak memiliki kepekaan dalam hati nurani. Ia
bisa mencuri uang orangtua atau permen di toko, tidak mengembalikan barang yang
dipinjam, masuk ke kamar orang lain, mencela pembicaraan orang, mencuri dengar
pembicaraan telepon orang lain sehingga kesan orang banyak adalah anak ini
bermasalah dan bermoral rendah.
Penyelesaian Masalah
Ada banyak orangtua yang tahu bahwa
penyebab anak berperilaku demikian hanya karena masalah biologis, lalu
menanggapinya tidak dengan serius, tetapi ada juga yang menanggapi secara
serius dan menghajarnya ketika mereka berperilaku agresif. Namun bila terus-
menerus dihukum dan dipukul, tidak akan mempan terhadap anak seperti ini. Lalu
bagaimana cara mengajar mereka?
·
Penggunaan obat.
Dokter umumnya menganjurkan
penggunaan obat untuk menolong anak yang hiperaktif, dan hal itu pun sudah
dibuktikan bermanfaat dalam menenangkan mereka. Jikalau masalahnya cukup serius
dan penyebabnya bukan masalah emosi, maka penggunaan obat harus sesuai dengan
petunjuk dokter dan jangan sampai ada efek sampingannya. Penting sekali untuk
berkonsultasi dengan dokter ahli saraf.
·
Pengaturan makanan.
Dalam konsultasi dengan dokter
sebaiknya orangtua menanyakan apakah anaknya itu alergi terhadap satu macam
makanan dan apakah perlu ada pengendalian terhadap makanan, sebab ada banyak
bukti terhadap kebenaran ini.
·
Hindarkan pemanjaan.
Anak jangan dimanjakan kalau tahu
bahwa penyebab hiperaktifnya karena masalah biologis. Orangtua harus bertahan
dengan peraturan yang telah diberikan dan menuntut anak agar menaatinya.
Tunjukkan dengan mantap dan wibawa bahwa orangtua ingin ditaati oleh
anak-anaknya supaya pernyataan ini juga memberi rasa aman kepada anak. Sikap
bertahan ini bukan berarti kejam, keras, diktator atau berhati baja, tetapi
sebaliknya justru untuk membina dan mengajar anak tentang apa yang harus mereka
lakukan.
·
Menciptakan lingkungan yang tenang.
Usahakan untuk menciptakan suasana
yang tenang di tempat anak itu biasa bergerak, misalnya: di kamar atau di ruang
bermain. Bila lingkungan tempat tinggalnya sangat bising, sebaiknya pindah
rumah agar anak itu dapat bertumbuh dalam situasi yang baik.
·
Memilih acara teve dengan hati-hati.
Acara teve yang menampilkan adegan
kekerasan, lagu yang ribut dan sinar yang bergerak menyilaukan, dapat
merangsang anak dan mengakibatkan mereka emosional. Cegahlah anak untuk meniru
adegan-adegan yang tidak baik. Oleh sebab itu, pilihlah acara teve yang
beradegan lembut dan baik.
·
Gunakan tenaga ekstra dengan tepat.
Anak ini kurang dapat mengendalikan
diri dan apabila sikap agresifnya dapat disalurkan dalam aktivitas yang tepat,
maka itu akan mengurangi keonaran, misalnya dengan mengizinkan dia mengikuti
aktivitas di luar rumah atau membuat pekerjaan rumah bersama teman atau
mengikutsertakan dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga dengan
demikian ia dapat menyalurkan tenaga ekstranya dengan benar.
·
Membimbing dalam kebenaran.
Meski anak hiperaktif sering tidak
mampu menguasai diri dengan perilakunya, orangtua atau guru tidak seharusnya
bersikap acuh dan menyerah. Setiap perilaku yang tidak dapat diterima harus
dicegah, kemudian tentukan suatu standar yang sesuai dengan kebenaran. Perlu
ada kesabaran untuk mengajarkan hal ini, walaupun harus dilakukan
berulang-ulang. Bila orangtua tidak putus asa, anak akan mempunyai harapan
untuk disembuhkan. Didiklah mereka selalu, untuk berdoa kepada Tuhan dan
bersandar pada pertolongan-Nya. Jika mereka berbuat dosa, mohonlah pengampunan
kepada Allah karena Ia telah berjanji, "Jika engkau mengaku dosa, Allah
itu setia dan adil, Ia akan mengampuni dosa kita menyucikan segala kesalahan
kita" (1Yohanes 1:19). Maka sejauh mereka mampu mengendalikan perilaku
mereka, kebenaranlah yang harus menjadi dasar yang harus mereka tuntut.[4]
Anak Agresif
Dari penyebab masalah anak yang suka
menyerang di atas, orangtua harus mengupayakan cara pencegahan, dengan
menghindari dan menyembuhkan masalah perilaku tersebut. Langkah berikut ini
diharapkan dapat menolong mengurangi perilaku anak yang agresif dan suka
menyerang.
1.
Membangun diri sebagai model/contoh. Apabila kelakuan anak itu disebabkan
karena meniru orang dewasa yang suka memaki, orangtua yang suka memukul atau
guru yang agresif, maka sebaiknya dilakukan introspeksi diri. Dengan menjaga
serta membangun diri menjadi teladan yang baik, akan menolong anak mengatasi
perilakunya itu.
2.
Menasihati dengan benar. Disiplin di dalam rumah tangga harus dipertegas untuk
membantu anak mengendalikan diri agar tidak bertindak sewenang-wenang.
Sebenarnya anak yang suka menyerang ini mempunyai rasa takut yang amat kuat
dalam dirinya. Apalagi ketika anak melempari ibunya dengan sebuah botol, ia
amat ketakutan dan segera mencari pertolongan dari gurunya untuk membantu
mengatasi pergumulan emosinya itu. Ia akan berkata, "Ketika saya marah dan
melempar ibu dengan botol, saya amat ketakutan, apa yang terjadi bila saya
benar-benar marah dan mencekik ibu, saya terlalu takut membayangkannya. Anak
memerlukan bantuan orang lain dalam mengatasi ketidakmampuan mengendalikan
dirinya. Ia membutuhkan nasihat dan ajaran yang benar.
3.
Membatasi tontonan beradegan keras. Bila anak memiliki kecenderungan bertindak
agresif dan suka menyerang, orangtua perlu dengan bijaksana mendampingi anak
dalam memilih acara tontonan di teve. Sebaiknya kepada anak hanya diperbolehkan
menonton acara atau film yang sesuai untuk anak. Kecenderungan sifat manusia
adalah pada hal-hal yang berdosa dan jahat sehingga anak sangat mudah
dipengaruhi untuk meniru apa yang dilihatnya. Larangan untuk jangan melakukan
kekerasan atau melukai orang lain bukanlah suatu ajaran yang baru. Dalam
Alkitab ada banyak contoh orang-orang yang berbuat seperti itu. Demikian juga
melalui drama dari Shakespeare, atau dongeng yang menceritakan binatang aneh
yang memakan manusia. Oleh sebab itu, tanggapilah masalah ini dengan sikap yang
wajar dan tenang. Yang kita lakukan hanyalah usaha membatasi acara tontonan
anak di teve.
4. Tanamkan kebenaran bahwa tidak
memiliki musuh itu adalah kasih. Cara yang paling baik untuk mencegah anak
melakukan kekerasan adalah dengan "kasih". Anak yang sejak kecil
terampas kasih sayangnya akan merasa mempunyai banyak musuh dan ia akan
melakukan banyak kekerasan. Seorang pembunuh atau yang suka melukai orang lain,
jiwanya sakit dan gelisah. Mereka dapat melakukan kejahatan itu karena tidak
menikmati kehangatan kasih. Menghadapi anak yang berperilaku demikian hanya ada
satu cara, yaitu dengan mengasihi dan menyayanginya. Daripada membuang waktu
untuk mencegah anak terpengaruh, lebih baik menyediakan waktu untuk meningkatkan
hubungan dengannya. Dengan demikian kita mengalihkan perhatian mereka untuk
bisa memperhatikan dan berbelas kasihan kepada orang lain. Anak yang dibesarkan
dalam kasih akan memiliki jiwa yang sehat, hati yang penuh damai terhadap orang
lain, dan tidak pernah memendam perasaan dendam kepada siapa pun. [5]
TANGGAPAN
PRIBADI
Anak
membutuhkan didikan, bimbingan dan bantuan dalam pertumbuhan moral dan
kerohanian mereka. Anak-anak memiliki hak untuk menerima pendidikan yang layak
di tengah-tengah masyarakat. Namun, ada beberapa budaya dunia yang menempatkan
anak sebagai pihak yang lemah, disiksa secara fisik, mental, dan intelektual.
Dalam buku ini Mary Go Setiawani memberi
pemaparan yang menyentuh tentang betapa banyaknya anak di berbagai belahan dunia
yang mendapat perlakuan tidak pantas dari lingkungan masyarakat, bahkan dari
orang tua mereka sendiri. Dalam bukunya "Menerobos Dunia Anak", kita
dibawa kepada suatu pemikiran yang mendalam tentang pentingnya membentuk
karakteristik anak melalui pendidikan sejak usia dini. Buku ini dilengkapi
dengan tahapan-tahapan pertumbuhan anak, baik secara jasmani, rohani, dan
psikologi. Hal ini memudahkan kita untuk menyesuaikan jenjang pendidikan
seperti apa yang sesuai untuk diterapkan terhadap seorang anak.
Hal
yang paling unik dan menarik dari buku ini adalah pembahasan yang tajam tentang
masalah-masalah biologis yang bisa saja dihadapi oleh kebanyakan anak, misalnya
masalah kekurangan gizi, ayan, gangguan pendengaran, buta warna, dan masalah
lainnya. Pembahasan tersebut juga disertai dengan penyelesaian masalah secara
sederhana yang bisa dilakukan oleh setiap orang yang mengemban pelayanan dalam
dunia anak. Secara keseluruhan, buku ini akan sangat menolong bagi Anda yang
bergumul dalam masalah pendidikan anak, baik di dalam rumah tangga,
sekolah-sekolah, play group maupun di Sekolah Minggu.
Buku
ini dapat menjadi oase di antara buku-buku pendidikan anak yang marak di
pasaran. Karena buku ini tidak hanya memberi kontribusi dalam hal yang
berkaitan dengan psikologi anak yang "up-to-date", tetapi juga,
mengikutsertakan dasar-dasar pengajaran yang bersumber pada Alkitab.