Jumat, 24 Mei 2013


RINGKASAN BUKU

Menerobos Dunia Anak

·         Kebutuhan Kasih
            Para ahli psikologi beranggapan bahwa kebutuhan yang paling penting dari seorang anak adalah kasih, dalam segala waktu ia perlu dikasihi. Kasih adalah hal yang paling mudah dirasakan, anak-anak biasanya tahu apakah orangtua mereka benar-benar mengasihi mereka atau tidak. Kasih orangtua tidak bisa digantikan dengan materi. Kasih yang berdasar pada materi hanya memberikan kesenangan sementara dan tidak dapat memuaskan kebutuhan jiwanya. Kasih datang dari Allah, tetapi kasih itu dapat disalurkan kepada anak-anak melalui orangtua atau orang lain. Oleh sebab itu, seandainya orangtua dan guru mengatakan, "Kalau kamu melakukan ini, maka Allah tidak mengasihi kamu," maka hal itu sulit untuk diterima oleh anak karena mereka membutuhkan kasih tanpa syarat. Adakalanya kita harus menggunakan cara yang khusus agar mereka merasa dikasihi. Dalam kebudayaan orang timur, para orangtua tidak biasa untuk menyatakan kasih secara terus terang, karena kebudayaan telah membuat orangtua tidak begitu terang-terangan menyatakan kasihnya sehingga anak sulit merasakan kasih sayang orangtua. Kasih seharusnya dinyatakan melalui sentuhan, perkataan, sikap, dan perilaku. Bila anak-anak sejak kecil dapat merasakan dirinya dikasihi, maka ia pun belajar mengasihi orang lain. Oleh sebab itu, orangtua harus selalu memperhatikan kebutuhan dasar anaknya, yaitu kebutuhan kasihnya.[1]

·         Kebutuhan Rasa Aman

            Anak memerlukan rasa aman, baik dalam segi jasmani maupun emosi, khususnya pada masa bayi di mana ia berada dalam kondisi yang tak berdaya. Jadi orangtua harus memberikan suasana yang aman. Contoh:
1. Letakkan atau simpan barang-barang yang mudah membuat anak luka di tempat yang aman, misalnya: kaca, gunting, korek api, benda-benda elektrik, dan sebagainya.
2. Menghadapi suasana yang baru, biarkan anak-anak memegang erat tang
·         Pendidikan Tentang Doa
            Sewaktu "Doa Bapa Kami" diucapkan, adakah anak mengerti akan maknanya atau hanya sekadar dihafal begitu saja? Atau dapatkan anak menjadi pandai berdoa dengan mengulangi terus doa tersebut? Tidaklah cukup hanya dengan memberitahukan bahwa anak-anak harus berdoa, tetapi perlu mengajar mereka supaya tahu BAGAIMANA BERDOA. Untuk membantu pertumbuhan kehidupan berdoa anak, perhatikanlah beberapa pembahasan di bawah ini:

Isi Dari Doa
1. Ibadah: Merasa hormat dan kagum terhadap kasih, kebaikan, kuasa, dan hikmat Allah.
2. Pengakuan Dosa: Mengaku segala kesalahan yang telah dilakukan dan memohon pengampunan dari Allah.
3. Pengucapan Syukur: Selalu mengucap syukur untuk segala sesuatu yang telah dikaruniakan Tuhan.
4. Permohonan: Belajar berdoa kepada Allah, dalam nama-Nya untuk meminta hal-hal yang sesuai dengan kehendak Allah.
5. Syafaat: Belajar melalui doa memperhatikan orang lain, juga berdoa untuk kebutuhan orang lain.

·         Anak Suka Mencuri
           
            Pengertian Tentang Anak Yang Suka Mencuri
            Mencuri berarti mengambil barang milik orang lain. Dapat dikatakan bahwa hampir semua anak yang bermasalah memiliki masalah perilaku ini. Misalnya, di panti asuhan anak nakal, persentase anak-anak yang suka mencuri sangat tinggi.
Jenis Pencurian
Pencurian dapat dibagi dalam beberapa jenis:
1. Terencana Pencurian ini dilakukan dengan terencana rapi sehingga tidak mudah diketahui.
2. Tak Terencana Pencurian dilakukan tanpa rencana detail.
3. Insidental Perilaku pencurian dilakukan secara tiba-tiba dan sewaktu-waktu saja.
4. Kebiasaan Pencurian sudah menjadi kebiasaannya dan juga berulang-ulang dilakukan.
5. Memilih Yang dicuri hanya barang-barang tertentu yang dipilihnya.
6. Asal Mengambil Barang apa saja semua dicuri, tidak peduli benda itu berharga atau tidak berharga.
7. Perorangan Pencurian dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan sendirian, tanpa diketahui orang lain.
8. Kelompok Mencuri secara berkelompok dan umumnya dilakukan dalam kelompok atau geng anak-anak nakal.
9. Mencopet Hampir sama dengan jenis asal mengambil (no.6), hanya dilakukan lebih terencana.
10. Merampok Pencurian dilakukan dengan masuk ke rumah orang, dengan menggertak dan melakukan kejahatan.


·         Penyebab Masalah
            Sebab dasar dari sifat mencuri adalah karena kejatuhan manusia ke dalam dosa sehingga mengakibatkan manusia sejak kecil cenderung berbuat dosa. Dari fakta ini dapat ditemukan beberapa unsur sebagai berikut:
            1. Adanya keinginan untuk memiliki. Karena keinginan untuk memiliki begitu menggoda, maka anak melakukan pencurian. Keinginan ini dapat timbul karena anak sering kurang mampu
 menguasai diri. Ini biasa terjadi bila anak terlalu dilindungi. Anak akan lebih sering lagi mencuri bila orang tua tidak menyelidiki mengapa barang atau uang dalam rumah sering hilang, atau ibu tahu anak telah mengambil barang di toko, lalu dibayarkan secara diam-diam. Dengan demikian anak semakin terjerumus ke dalam kebiasaan yang buruk. Penyebab lain bisa karena anak lahir dari keluarga miskin. Kemiskinan telah merisaukan dirinya. Apa yang menjadi kebutuhannya tidak dapat terpenuhi, selain dengan mencuri.
            2. Tidak ada pendidikan moral dalam keluarga. Dalam keluarga harus ada pendidikan moral yang benar. Sekalipun pada hal-hal yang kecil, namun bila disertai dengan ketamakan akan merangsang anak untuk mencuri, baik itu mencuri bunga, buah, alat-alat atau barang-barang milik orang lain. Tidak adanya pendidikan moral dalam keluarga akan mudah menjadikan anak-anak mempunyai kebiasaan mancuri.
            3. Sekadar menarik perhatian. Ada anak yang mencuri karena ingin menarik perhatian orang tua atau gurunya. Apabila ia tidak dapat memperoleh perhatian dengan cara yang benar, maka ia melakukannya dengan cara mencuri untuk memperoleh perhatian itu. Upaya menarik perhatian itu meskipun negatif, bahkan mungkin ia dimarahi atau dihukum, tetapi konsekuensi itu lebih baik daripada tidak diperhatikan. Tindakan pencurian ini lebih karena unsur kekurangan moral ketimbangan masalah kejiwaan.
            4. Mengharapkan untuk diterima. Kadangkala ada anak yang memiliki perasaan rendah diri, tetapi sangat berharap untuk dapat diterima, namun tidak ada bakat yang menonjol atau paras muka yang cakap yang dapat dijadikan alasan untuk diterima. Oleh karena itu supaya dapat diterima sebagai teman, ia lalu mencuri uang dan dengan uang curian, ia mengundang makan dan memegahkan diri di hadapan teman-temannya.
            5. Terperangkap oleh jiwa yang memberontak. Anak merasa tidak puas setelah ditegur dan dihukum oleh orang tua atau guru, lalu mencuri untuk melawan. Ada juga anak yang karena merasa ayah dan ibunya lebih mencintai saudara yang lain, ia mencuri untuk melawan.
            6. Ingin menonjolkan rasa kebersatuan. Karena ingin menonjolkan rasa kebersatuan yang tinggi, seorang anak melakukan pencurian bersama-sama dalam satu kelompok. Dalam kelompok itu, mereka merasakan adanya suasana kebersamaan dan juga timbulnya rasa kebanggaan terhadap kepahlawanan seseorang sehingga mencuri dianggap sebagai terobosan untuk menikmati kebahagiaan.
            7. Gejala penyakit. Mencuri merupakan gejala penyakit. Ini mungkin terjadi karena konflik dalam jiwanya sehingga mengalami karakter yang terbagi dan perilakunya berbeda dengan biasanya.

·         Penyelesaian Masalah
            Bagaimana membantu anak untuk mengatasi masalah kebiasaan suka mencuri ini? Diharapkan beberapa cara penyelesaian di bawah ini dapat memberikan petunjuk kepada orang tua dan guru.
            1. Mencukupi kebutuhan anak. Banyak anak suka mencuri karena keinginan yang dibutuhkan belum terpenuhi. Sebaiknya orang tua mengoreksi diri, apakah ada kebutuhan anak yang belum dicukupi? Kelalaian itu bisa terjadi dalam bentuk: tidak memberi makanan yang bergizi, atau tidak menyediakan alat tulis yang dibutuhkan, atau keperluan sehari- hari lainnya. Semuanya itu akan membuat anak tergoda untuk melakukan pencurian.
            2. Memberi perhatian yang cukup. Ada pencurian karena adanya ketidakstabilan dalam jiwa anak. Orang tua yang sibuk hanya tahu mencukupi kebutuhan anak secara materi, tetapi melalaikan kebutuhan rohaninya. Bila anak itu sehat, puas dan stabil jwanya, tidak mungkin ia mencuri untuk mencari perhatian orang dewasa.
            3. Mengenali pergaulan anak. Ketika diketahui anak mulai suka mencuri, segera selidiki lebih dahulu tentang teman-temannya. Apakah ia bergaul dengan teman- teman yang berperangai buruk, yang menganggap mencuri itu satu keberanian atau mereka diancam untuk mencuri. Jika benar teman- teman itu yang bermasalah, maka dengan sabar orang tua harus mengajar anak dan menjelaskan akibat buruk dari mencuri itu.
            4. Menyelidiki motivasinya. Selain unsur di atas, mungkin masih ada motivasi yang tersembunyi yang mendorong anak itu mencuri. Cobalah untuk mengetahui kehidupan sosial anak itu, mungkin mereka sedang berpacaran atau sedang terjerumus pada obat-obat terlarang seperti: ganja atau minuman keras. Bila orang tua dengan teliti menyelidiki motivasi anak mencuri, maka akan lebih mudah mengatasi masalahnya.
            5. Memasukkan konsep nilai yang benar. Sejak kecil orang tua sudah harus mendidik perbedaan antara "ini milik kamu" dan "ini milik saya". Jangan membiarkan anak sembarangan mengambil barang orang lain. Kalau dalam tas atau di saku ditemukan barang milik teman, anak harus segera mengembalikannya. Menerapkan konsep yang benar harus disertai dengan teladan yang baik supaya anak tidak tamak terhadap hal apa pun sekalipun itu hal yang kecil atau sembarangan meminjam barang milik orang lain. Berikanlah penghargaan dan pujian bila mereka mampu mengurus atau mengatur barangnya sendiri.
            6. Melakukan usaha secara bersama. Jika anak sendiri tidak berniat untuk membuang kebiasaan yang jelek, meskipun orang tua atau guru memaksa atau menekan mereka, hasilnya tetap akan sia-sia. Usahakanlah untuk bekerja sama dengan anak, menasihati dan menjelaskan sebab-akibat dari tindak mencuri, atau membantu mereka untuk mencari jalan ke luar yang bisa dilakukan, kemudian berdoalah bersama mereka agar bersandar pada anugerah Tuhan untuk hidup dalam kemenangan.
            7. Mendidiknya dalam kebenaran. Bunyi perintah dalam Sepuluh Hukum Allah sangat jelas, "Jangan mencuri!" (Kel. 20:15). Hati nurani manusiapun berbicara bahwa mencuri itu dosa dan Allah akan menghukum dosa itu. Apabila anak itu dalam kelemahannya telah berbuat dosa, berikan pengertian bahwa ia tetap dikasihi, apalagi oleh Allah. Apabila sebagai orang dewasa dapat memaafkan mereka, maka Allah pun dapat mengampuni mereka. Pujilah Tuhan, seperti apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus, bahwa "segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Flp. 4:13). Setelah dibimbing, anak mungkin masih dapat lupa dan jatuh lagi, tetapi dengan seringnya diingatkan serta diawasi dan didoakan, tetap ada pengharapan bahwa Allah akan mengubah mereka dan mengenakan jubah yang baru kepada mereka sehingga buah kebenaran dihasilkan melalui dan di dalam hidup mereka. [2]

Anak yang Penakut
Pengertian Masalah
            Ketakutan adalah suatu reaksi emosi yang timbul karena adanya ancaman yang ada di benaknya. Ungkapan perasaan ini dapat menyatakan adanya ketidakseimbangan dalam jiwanya, misalnya menjadi cemas dan gugup, atau juga menyatakan reaksi fisiknya seperti jantung yang berdebar cepat. Kadang-kadang dengan hati yang penuh ketakutan dapat menghindarkan diri dari bahaya dan menolong diri untuk tetap berusaha memiliki semangat hidup.

Hal-Hal Yang Membuat Anak Takut :
·         Takut terhadap orang asing.
            Sebagian pakar ilmu jiwa beranggapan bahwa takut terhadap orang asing merupakan pengalaman yang harus ditempuh oleh seorang anak pada masa pertumbuhannya, khususnya seorang bayi. Untuk mencegah takut ini menjadi hal yang berkepanjangan, sebaiknya orangtua mengusahakan agar anak lebih banyak bertemu dan bergaul dengan orang lain, misalnya membawanya ke rumah kerabat atau sahabat dan bermain dengan anak sebaya. Usaha ini harus dilakukan dengan sabar dan jangan terburu-buru atau sedikit dipaksa. Seorang guru Sekolah Minggu pun harus dapat dengan sabar mendorong anak untuk bergaul dengan orang yang dianggap asing sampai akhirnya berkenalan dan terjalin hubungan yang baik dengannya.

·         Takut berpisah dengan orangtua.
            Anak usia satu tahun sering mengalami ketakutan. Baru setelah semakin besar, anak bisa mengerti bahwa perpisahan itu hanya sementara. Namun bila sampai berkelanjutan dapat menimbulkan masalah. Jadi orangtua perlu membina kepercayaan anak terhadap dirinya. Berlakulah jujur dan terus terang mengatakan ke mana, apa tujuan orangtua pergi dan kapan mereka kembali. Kepercayaan anak terhadap orangtua dapat memberikan rasa aman kepadanya dan menghilangkan ketakutannya sewaktu harus berpisah dengan orangtua.

·         Takut terhadap benda aneh.
            Anak yang masih kecil penuh dengan daya imajinasi dan masalah akan timbul bila daya imajinasinya dikuasai oleh ketakutan. Mereka sering takut kepada benda/binatang aneh karena ia membandingkan apa yang ada dalam pikirannya tentang cerita hantu, nenek sihir, dan yang lainnya. Mereka belum mampu membedakan antara yang khayal dan yang nyata. Cara menolong mereka ialah dengan memperhatikan acara teve yang ditonton, buku cerita/ dongeng yang dibaca, dan kemudian memberikan pengertian bahwa kebanyakan cerita hantu, nenek sihir, dan sebagainya itu hanyalah cerita khayalan belaka, dan membimbing mereka untuk percaya bahwa dengan penyertaan Tuhan Yesus, mereka tidak perlu takut.
·         Takut terhadap binatang atau serangga.
            Ini merupakan gejala lain yang menimbulkan ketakutan bagi seorang anak, bahkan bisa berlanjut hingga masa remaja. Binatang yang ditakuti umumnya adalah anjing, tikus, kecoa, laba-laba, dll. Untuk mengurangi ketakutan terhadap binatang bersikaplah ramah terhadap binatang yang tidak dapat melukai. Buanglah konsep ajaran yang salah yang ditimbulkan dari gambar/kartun, buku cerita atau dari acara teve mengenai binatang-binatang. Beritahukan bahwa ada kebaikan dari setiap binatang, misalnya anjing untuk menjaga rumah dan bila tidak diganggu, anjing tidak akan menggigit. Beberapa binatang ada yang mengeluarkan suara yang menakutkan, itu sebenarnya hanyalah ciri dari binatang itu sendiri, seperti manusia juga ada yang bicara dengan suara keras. Allah menciptakan beraneka macam binatang dan semuanya baik adanya serta Allah berpesan agar kita memelihara dan melindungi mereka (Kejadian 1:26).

·         Takut akan kegelapan.
            Bukan saja anak yang takut pada kegelapan, tetapi ada juga orang dewasa yang takut pada kegelapan; ini merupakan gejala yang umum. Ketakutan ini biasanya dinyatakan bila anak tidak mau tidur bila tidak ditemani ibu, lampu tidak boleh dipadamkan, takut pada suara-suara atau bayang-bayang. Pencegahan mudah dilakukan, yaitu dengan mengajak mereka bermain "petak-umpet", di mana anak ditutup matanya dan disuruh mencari, atau dengan menyalakan lampu kecil/lampu tidur, menemaninya sampai tidur dan menyalakan lampu di luar agar ada sinar yang masuk ke ruang tidur. Atau pintu kamar dibuka dan lampu dipadamkan. Cara terbaik adalah dengan meyakinkan pada mereka Allah beserta mereka, ajak mereka sebelum tidur berdoa untuk menolong meyakinkan bahwa Allah beserta mereka sehingga tidak perlu takut.

·         Takut pada petir/kilat.
            Bencana alam mengakibatkan banyak orang kehilangan rumah atau meninggal. Peristiwa mengerikan itu sering ditayangkan di layar teve dan sangat mempengaruhi baik anak maupun orang dewasa yang menyaksikannya. Petir/kilat yang keras juga merupakan fenomena alam yang menakutkan. Bagaimana membantu anak yang takut pada petir? Bila ada tanda akan ada petir/kilat, pangkulah si anak dan mengajaknya bersama untuk melihat sinar petir/kilat itu dari jendela rumah sambil menjelaskan dari mana asal petir. Sikap demikian dapat menenangkan anak dari ketakutannya, ditambah pula dengan penjelasan bahwa Allah adalah pencipta alam semesta, bencana alam tidak akan terjadi bila tidak dikehendaki Allah.

·         Takut pergi ke dokter.
            Banyak anak takut pergi ke dokter umum atau dokter gigi. Oleh sebab itu, banyak dokter yang dengan bermacam upaya mengusahakan supaya anak dapat merasa tenang dan nyaman sewaktu diperiksa, misalnya dengan mainan untuk menghilangkan ketakutan anak. Dapat juga melalui permainan dokter-dokteran untuk mempersiapkan hati anak ketika mau pergi ke dokter. Usahakan jujur ketika anak bertanya apakah sakit bila gigi ditambal, misalnya dengan jawaban seperti, "Kalau lubang gigi itu besar akan sakit bila ditambal, tetapi kalau tidak ditambal, akan lebih sakit lagi." Mendampingi mereka atau mengajak mereka berdoa di depan dokter gigi ketika gigi mereka akan dicabut, dapat mengurangi ketegangan, ketakutan, serta rasa sakit mereka.

·         Takut pergi ke sekolah.
            Akan menjadi masalah bila sampai usia sekolah, anak masih takut untuk pergi ke sekolah. Perasaan takut ini disimpan bertahun- tahun di bawah sadarnya, dan akibatnya anak menjadi rendah diri, sering gagal, gelisah dalam belajar, dan sulit berkonsentrasi ketika belajar. Selain masalah pelajaran, juga ada masalah keluarga sehingga anak mengalami dua tekanan yang membuat mereka takut untuk terus maju. Sewaktu menghadapi ujian, karena terlalu tegang, mereka lupa apa yang sudah dipelajari. Lambat laun mereka takut bertemu dengan guru, teman, dan juga takut pergi ke sekolah. Tidaklah bijak bila membantu anak ini dengan gertakan, sebaiknya dengan sabar orangtua memberi dorongan untuk menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman; jangan membiarkan ia menyendiri di sekolah, jangan mengkritiknya bila gagal.

Penyelesaian Masalah
·         Menguasai lingkungan.
            Mengatur suatu lingkungan pengalaman yang menyenangkan supaya perasaan ketakutan secara perlahan-lahan menjadi hilang. Misalnya anak yang takut gelap, biarkan dia perlahan-lahan mendekati sendiri kegelapan itu, bermain tutup mata untuk mencari sesuatu, atau dengan memasang lampu yang bersinar lembut untuk mendampingi mereka tidur malam. Bantu mereka bertumbuh dalam lingkungan yang nyaman.
·         Meredakan ketegangan.
            Untuk menenangkan emosi yang sedang mencekam, suruhlah anak menarik napas panjang, kemudian tangan diulur ke depan sambil dikepalkan dan diam sejenak, selanjutnya angkat kaki kiri dengan kedua tangan dieratkan dan diamkan sejenak, lalu ganti kaki kanan dan lakukan gerakan tadi. Ulangi terus gerakan-gerakan tersebut sampai anak merasa tenang dan tidak tegang lagi.

·         Menggunakan daya imajinasinya.
            Menolong anak menghilangkan rasa takutnya dapat juga dengan menggunakan daya imajinasinya. Anak dibimbing untuk berimajinasi bagaimana Yesus menemani mereka di dokter atau pada waktu duduk di kursi dokter gigi.

·         Mempelajari sesuatu melalui observasi.
            Bila orang dewasa gugup, anak pun akan ikut gugup, namun mereka dapat dibimbing melalui observasi belajar untuk mengurangi rasa takut dan gugup itu. Caranya adalah dengan menyuruh mereka belajar dari teman sebaya sewaktu menghadapi situasi yang sama, tetapi tidak takut, atau dengan menyaksikan film di acara teve di mana anak dapat menghadapi situasi yang tegang tetapi tetap dapat tenang.

·         Menjelaskan konsep dengan tepat.
            Salah dalam menggunakan daya imajinasi atau kurangnya pengetahuan umum dapat membuat anak takut pada sesuatu yang belum diketahuinya. Memberikan penjelasan tentang asal mula gejala- gejala yang membuat mereka takut akan sangat menolong mereka.

·         Memberikan pujian.
            Mungkinkah memberi pujian dapat mengurangi rasa takut seseorang? Pujian bukan hanya memberikan sesuatu benda, tetapi bisa juga dalam bentuk seperti: ucapan semangat yang mendorong atau memberikan hak/wewenang. Misalnya, bila ia berani melakukan apa yang tadinya ditakuti, ia boleh menonton teve dengan waktu yang lebih panjang, atau bermain lebih lama. [3]
Anak Hiperaktif
            Pengertian Tentang Anak Hiperaktif
            Anak yang hiperaktif umumnya bersifat agresif, penuh semangat, tidak dapat tenang, sulit diajar, tidak tahan lama melakukan satu aktivitas. Biasanya juga sulit bergaul dengan teman sebaya, tidak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru dan juga sulit menaati orangtua dan guru. Setelah dewasa umumnya mengalami masalah dalam emosi, suka bermabuk-mabukan atau melakukan pelanggaran hukum. Sebenarnya keaktifan itu tidak mereka inginkan, namun mereka sulit untuk duduk dengan tenang dan memperlambat gerakan mereka karena mereka didorong oleh suatu kekuatan yang sulit dijelaskan, dan sulit diubah. Pada tahun 1845, Dr. Heinrich Hoffmann mengumpulkan cerita anak-anak yang berisi pelajaran moral dan kemudian melalui penelitian tersebut mengunakan istilah yang berbeda untuk melukiskan sifat hiperaktif. Dan melalui pengamatan, kira-kira di tahun 1902, Dr. G.F. Still menguraikan bahwa ada beberapa perilaku tertentu yang menjadi ciri anak-anak tersebut. Tetapi sebelum menyelidiki secara akurat, ia sudah tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan bahwa perilaku tersebut adalah hasil dari kesalahan pendidikan keluarga. Setelah itu dalam banyak tahun bermunculanlah istilah-istilah, seperti: perhatian, deficit disorder, masalah perilaku fungsional, dyslexia, sindrom anak hiperaktif, sindrom impulsif hiperkinetik, ketidakmampuan dalam belajar, sindrom kerusakan otak minimal, ketidakmampuan belajar secara khusus, dan sebagainya.



            Pernyataan Masalah
·         Masalah intelek.
Anak hiperaktif jelas mengalami gangguan dalam otak. Ia sulit menentukan mana yang penting dan mana yang harus diprioritaskan terlebih dulu, selain sulit menyelesaikan pelajaran, sering tidak dapat berkonsentrasi dan pelupa. Adakalanya mereka sulit mengerti pembicaraan orang secara umum, apalagi terhadap petunjuk yang mengandung langkah-langkah atau tahapan-tahapan. Ia sulit menggabungkan satu hal dengan hal lainnya, kurang kendali diri, tidak dapat berencana atau menduga apa akibat yang dilakukannya, susah bergaul, kemampuan belajar lemah. Daya pikir penangkapannya lemah sehingga sulit untuk menghadapi pelajaran matematika. Karena mengalami luka di otak, mereka sering tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan, khususnya ketika masuk ke suasana kelas yang dinamis, emosinya menjadi mudah terangsang. Perilaku yang sulit diduga itu kadang membuat orangtua, guru atau teman-temannya merasa khawatir.
            Kadangkala mereka sadar harus mematuhi peraturan, tetapi tidak mampu mengendalikan diri. Ia juga mengalami kesulitan dalam mengutarakan pikiran dan perasaan melalui kata-kata, sering kacau dalam menanggapi citra yang diterima, misalnya: "m" dengan "w", "d" dianggap "b" atau "p" dianggap "q", dan sebagainya sehingga mengalami kesulitan dalam membaca.

·         Masalah biologis.
            Mereka suka sekali berlari-lari dan sulit untuk menyuruh mereka diam, sepertinya sedang begitu sibuk melakukan sesuatu sehingga tidak dapat beristirahat, meraba, dan menyentuh benda-benda untuk merasakan lingkungan di sekitarnya, suka berteriak dan ribut, semangatnya kuat. Anak hiperaktif juga peka terhadap bahan kimia, obat, bulu, debu, dan barang kosmetik. Mereka juga sensitif terhadap makanan tertentu, seperti: coklat, jagung, telor ayam, susu, kedelai, daging, babi, gula, dan gandum. Mereka sulit tidur dengan nyenyak dan mudah terbangun, dan kebiasaan tidur mereka bermacam-macam: ada yang bermimpi sambil berjalan, menggigau atau mengompol. Mereka tidak dapat berolahraga dengan banyak gerak dan banyak tenaga, seperti bersepeda atau lompat tali. Sebaliknya gerakan tenang pun bermasalah, misalnya bila disuruh menulis, mewarnai, atau menggambar, mereka tidak dapat menggunakan alat tulis dengan baik.

·         Masalah emosi.
            Anak hiperaktif umumnya bersifat egois, kurang sabar, dan emosional, bila berbaris selalu berebutan, tidak sabar menunggu, bermain kasar, suka merusak, tidak takut bahaya, dan sembrono sehingga besar kemungkinan bisa mengalami kecelakaan. Pernyataan emosinya sangat ekstrim dan kurang kendali diri. Juga emosi sering berubah-ubah sehingga tidak mudah diduga, kadang begitu senang dan ceria, tetapi sebentar kemudian marah dan sedih. Seorang ahli berpendapat bahwa yang sangat dibutuhkan mereka adalah melatih mereka untuk dapat mengendalikan diri.
·         Masalah moral.
            Karena mengalami berbagai masalah seperti di atas, maka mereka pun tidak memiliki kepekaan dalam hati nurani. Ia bisa mencuri uang orangtua atau permen di toko, tidak mengembalikan barang yang dipinjam, masuk ke kamar orang lain, mencela pembicaraan orang, mencuri dengar pembicaraan telepon orang lain sehingga kesan orang banyak adalah anak ini bermasalah dan bermoral rendah.



Penyelesaian Masalah
            Ada banyak orangtua yang tahu bahwa penyebab anak berperilaku demikian hanya karena masalah biologis, lalu menanggapinya tidak dengan serius, tetapi ada juga yang menanggapi secara serius dan menghajarnya ketika mereka berperilaku agresif. Namun bila terus- menerus dihukum dan dipukul, tidak akan mempan terhadap anak seperti ini. Lalu bagaimana cara mengajar mereka?
·         Penggunaan obat.
            Dokter umumnya menganjurkan penggunaan obat untuk menolong anak yang hiperaktif, dan hal itu pun sudah dibuktikan bermanfaat dalam menenangkan mereka. Jikalau masalahnya cukup serius dan penyebabnya bukan masalah emosi, maka penggunaan obat harus sesuai dengan petunjuk dokter dan jangan sampai ada efek sampingannya. Penting sekali untuk berkonsultasi dengan dokter ahli saraf.

·         Pengaturan makanan.
Dalam konsultasi dengan dokter sebaiknya orangtua menanyakan apakah anaknya itu alergi terhadap satu macam makanan dan apakah perlu ada pengendalian terhadap makanan, sebab ada banyak bukti terhadap kebenaran ini.

·         Hindarkan pemanjaan.
            Anak jangan dimanjakan kalau tahu bahwa penyebab hiperaktifnya karena masalah biologis. Orangtua harus bertahan dengan peraturan yang telah diberikan dan menuntut anak agar menaatinya. Tunjukkan dengan mantap dan wibawa bahwa orangtua ingin ditaati oleh anak-anaknya supaya pernyataan ini juga memberi rasa aman kepada anak. Sikap bertahan ini bukan berarti kejam, keras, diktator atau berhati baja, tetapi sebaliknya justru untuk membina dan mengajar anak tentang apa yang harus mereka lakukan.

·         Menciptakan lingkungan yang tenang.
            Usahakan untuk menciptakan suasana yang tenang di tempat anak itu biasa bergerak, misalnya: di kamar atau di ruang bermain. Bila lingkungan tempat tinggalnya sangat bising, sebaiknya pindah rumah agar anak itu dapat bertumbuh dalam situasi yang baik.
·         Memilih acara teve dengan hati-hati.
            Acara teve yang menampilkan adegan kekerasan, lagu yang ribut dan sinar yang bergerak menyilaukan, dapat merangsang anak dan mengakibatkan mereka emosional. Cegahlah anak untuk meniru adegan-adegan yang tidak baik. Oleh sebab itu, pilihlah acara teve yang beradegan lembut dan baik.
·         Gunakan tenaga ekstra dengan tepat.
            Anak ini kurang dapat mengendalikan diri dan apabila sikap agresifnya dapat disalurkan dalam aktivitas yang tepat, maka itu akan mengurangi keonaran, misalnya dengan mengizinkan dia mengikuti aktivitas di luar rumah atau membuat pekerjaan rumah bersama teman atau mengikutsertakan dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga dengan demikian ia dapat menyalurkan tenaga ekstranya dengan benar.
·         Membimbing dalam kebenaran.
            Meski anak hiperaktif sering tidak mampu menguasai diri dengan perilakunya, orangtua atau guru tidak seharusnya bersikap acuh dan menyerah. Setiap perilaku yang tidak dapat diterima harus dicegah, kemudian tentukan suatu standar yang sesuai dengan kebenaran. Perlu ada kesabaran untuk mengajarkan hal ini, walaupun harus dilakukan berulang-ulang. Bila orangtua tidak putus asa, anak akan mempunyai harapan untuk disembuhkan. Didiklah mereka selalu, untuk berdoa kepada Tuhan dan bersandar pada pertolongan-Nya. Jika mereka berbuat dosa, mohonlah pengampunan kepada Allah karena Ia telah berjanji, "Jika engkau mengaku dosa, Allah itu setia dan adil, Ia akan mengampuni dosa kita menyucikan segala kesalahan kita" (1Yohanes 1:19). Maka sejauh mereka mampu mengendalikan perilaku mereka, kebenaranlah yang harus menjadi dasar yang harus mereka tuntut.[4]

Anak Agresif
            Dari penyebab masalah anak yang suka menyerang di atas, orangtua harus mengupayakan cara pencegahan, dengan menghindari dan menyembuhkan masalah perilaku tersebut. Langkah berikut ini diharapkan dapat menolong mengurangi perilaku anak yang agresif dan suka menyerang.

            1. Membangun diri sebagai model/contoh. Apabila kelakuan anak itu disebabkan karena meniru orang dewasa yang suka memaki, orangtua yang suka memukul atau guru yang agresif, maka sebaiknya dilakukan introspeksi diri. Dengan menjaga serta membangun diri menjadi teladan yang baik, akan menolong anak mengatasi perilakunya itu.

            2. Menasihati dengan benar. Disiplin di dalam rumah tangga harus dipertegas untuk membantu anak mengendalikan diri agar tidak bertindak sewenang-wenang. Sebenarnya anak yang suka menyerang ini mempunyai rasa takut yang amat kuat dalam dirinya. Apalagi ketika anak melempari ibunya dengan sebuah botol, ia amat ketakutan dan segera mencari pertolongan dari gurunya untuk membantu mengatasi pergumulan emosinya itu. Ia akan berkata, "Ketika saya marah dan melempar ibu dengan botol, saya amat ketakutan, apa yang terjadi bila saya benar-benar marah dan mencekik ibu, saya terlalu takut membayangkannya. Anak memerlukan bantuan orang lain dalam mengatasi ketidakmampuan mengendalikan dirinya. Ia membutuhkan nasihat dan ajaran yang benar.
            3. Membatasi tontonan beradegan keras. Bila anak memiliki kecenderungan bertindak agresif dan suka menyerang, orangtua perlu dengan bijaksana mendampingi anak dalam memilih acara tontonan di teve. Sebaiknya kepada anak hanya diperbolehkan menonton acara atau film yang sesuai untuk anak. Kecenderungan sifat manusia adalah pada hal-hal yang berdosa dan jahat sehingga anak sangat mudah dipengaruhi untuk meniru apa yang dilihatnya. Larangan untuk jangan melakukan kekerasan atau melukai orang lain bukanlah suatu ajaran yang baru. Dalam Alkitab ada banyak contoh orang-orang yang berbuat seperti itu. Demikian juga melalui drama dari Shakespeare, atau dongeng yang menceritakan binatang aneh yang memakan manusia. Oleh sebab itu, tanggapilah masalah ini dengan sikap yang wajar dan tenang. Yang kita lakukan hanyalah usaha membatasi acara tontonan anak di teve.
            4. Tanamkan kebenaran bahwa tidak memiliki musuh itu adalah kasih. Cara yang paling baik untuk mencegah anak melakukan kekerasan adalah dengan "kasih". Anak yang sejak kecil terampas kasih sayangnya akan merasa mempunyai banyak musuh dan ia akan melakukan banyak kekerasan. Seorang pembunuh atau yang suka melukai orang lain, jiwanya sakit dan gelisah. Mereka dapat melakukan kejahatan itu karena tidak menikmati kehangatan kasih. Menghadapi anak yang berperilaku demikian hanya ada satu cara, yaitu dengan mengasihi dan menyayanginya. Daripada membuang waktu untuk mencegah anak terpengaruh, lebih baik menyediakan waktu untuk meningkatkan hubungan dengannya. Dengan demikian kita mengalihkan perhatian mereka untuk bisa memperhatikan dan berbelas kasihan kepada orang lain. Anak yang dibesarkan dalam kasih akan memiliki jiwa yang sehat, hati yang penuh damai terhadap orang lain, dan tidak pernah memendam perasaan dendam kepada siapa pun. [5]


TANGGAPAN PRIBADI
            Anak membutuhkan didikan, bimbingan dan bantuan dalam pertumbuhan moral dan kerohanian mereka. Anak-anak memiliki hak untuk menerima pendidikan yang layak di tengah-tengah masyarakat. Namun, ada beberapa budaya dunia yang menempatkan anak sebagai pihak yang lemah, disiksa secara fisik, mental, dan intelektual.
             Dalam buku ini Mary Go Setiawani memberi pemaparan yang menyentuh tentang betapa banyaknya anak di berbagai belahan dunia yang mendapat perlakuan tidak pantas dari lingkungan masyarakat, bahkan dari orang tua mereka sendiri. Dalam bukunya "Menerobos Dunia Anak", kita dibawa kepada suatu pemikiran yang mendalam tentang pentingnya membentuk karakteristik anak melalui pendidikan sejak usia dini. Buku ini dilengkapi dengan tahapan-tahapan pertumbuhan anak, baik secara jasmani, rohani, dan psikologi. Hal ini memudahkan kita untuk menyesuaikan jenjang pendidikan seperti apa yang sesuai untuk diterapkan terhadap seorang anak.
            Hal yang paling unik dan menarik dari buku ini adalah pembahasan yang tajam tentang masalah-masalah biologis yang bisa saja dihadapi oleh kebanyakan anak, misalnya masalah kekurangan gizi, ayan, gangguan pendengaran, buta warna, dan masalah lainnya. Pembahasan tersebut juga disertai dengan penyelesaian masalah secara sederhana yang bisa dilakukan oleh setiap orang yang mengemban pelayanan dalam dunia anak. Secara keseluruhan, buku ini akan sangat menolong bagi Anda yang bergumul dalam masalah pendidikan anak, baik di dalam rumah tangga, sekolah-sekolah, play group maupun di Sekolah Minggu.
            Buku ini dapat menjadi oase di antara buku-buku pendidikan anak yang marak di pasaran. Karena buku ini tidak hanya memberi kontribusi dalam hal yang berkaitan dengan psikologi anak yang "up-to-date", tetapi juga, mengikutsertakan dasar-dasar pengajaran yang bersumber pada Alkitab.





                [1] Hlm 29
                [2] Hal 145 – 150

                [3] Hal 123 – 124


            [4] Hal137 – 141

            [5] Hal156 - 159



RINGKASAN BUKU

Menerobos Dunia Anak

·         Kebutuhan Kasih
            Para ahli psikologi beranggapan bahwa kebutuhan yang paling penting dari seorang anak adalah kasih, dalam segala waktu ia perlu dikasihi. Kasih adalah hal yang paling mudah dirasakan, anak-anak biasanya tahu apakah orangtua mereka benar-benar mengasihi mereka atau tidak. Kasih orangtua tidak bisa digantikan dengan materi. Kasih yang berdasar pada materi hanya memberikan kesenangan sementara dan tidak dapat memuaskan kebutuhan jiwanya. Kasih datang dari Allah, tetapi kasih itu dapat disalurkan kepada anak-anak melalui orangtua atau orang lain. Oleh sebab itu, seandainya orangtua dan guru mengatakan, "Kalau kamu melakukan ini, maka Allah tidak mengasihi kamu," maka hal itu sulit untuk diterima oleh anak karena mereka membutuhkan kasih tanpa syarat. Adakalanya kita harus menggunakan cara yang khusus agar mereka merasa dikasihi. Dalam kebudayaan orang timur, para orangtua tidak biasa untuk menyatakan kasih secara terus terang, karena kebudayaan telah membuat orangtua tidak begitu terang-terangan menyatakan kasihnya sehingga anak sulit merasakan kasih sayang orangtua. Kasih seharusnya dinyatakan melalui sentuhan, perkataan, sikap, dan perilaku. Bila anak-anak sejak kecil dapat merasakan dirinya dikasihi, maka ia pun belajar mengasihi orang lain. Oleh sebab itu, orangtua harus selalu memperhatikan kebutuhan dasar anaknya, yaitu kebutuhan kasihnya.[1]

·         Kebutuhan Rasa Aman

            Anak memerlukan rasa aman, baik dalam segi jasmani maupun emosi, khususnya pada masa bayi di mana ia berada dalam kondisi yang tak berdaya. Jadi orangtua harus memberikan suasana yang aman. Contoh:
1. Letakkan atau simpan barang-barang yang mudah membuat anak luka di tempat yang aman, misalnya: kaca, gunting, korek api, benda-benda elektrik, dan sebagainya.
2. Menghadapi suasana yang baru, biarkan anak-anak memegang erat tang
·         Pendidikan Tentang Doa
            Sewaktu "Doa Bapa Kami" diucapkan, adakah anak mengerti akan maknanya atau hanya sekadar dihafal begitu saja? Atau dapatkan anak menjadi pandai berdoa dengan mengulangi terus doa tersebut? Tidaklah cukup hanya dengan memberitahukan bahwa anak-anak harus berdoa, tetapi perlu mengajar mereka supaya tahu BAGAIMANA BERDOA. Untuk membantu pertumbuhan kehidupan berdoa anak, perhatikanlah beberapa pembahasan di bawah ini:

Isi Dari Doa
1. Ibadah: Merasa hormat dan kagum terhadap kasih, kebaikan, kuasa, dan hikmat Allah.
2. Pengakuan Dosa: Mengaku segala kesalahan yang telah dilakukan dan memohon pengampunan dari Allah.
3. Pengucapan Syukur: Selalu mengucap syukur untuk segala sesuatu yang telah dikaruniakan Tuhan.
4. Permohonan: Belajar berdoa kepada Allah, dalam nama-Nya untuk meminta hal-hal yang sesuai dengan kehendak Allah.
5. Syafaat: Belajar melalui doa memperhatikan orang lain, juga berdoa untuk kebutuhan orang lain.

·         Anak Suka Mencuri
           
            Pengertian Tentang Anak Yang Suka Mencuri
            Mencuri berarti mengambil barang milik orang lain. Dapat dikatakan bahwa hampir semua anak yang bermasalah memiliki masalah perilaku ini. Misalnya, di panti asuhan anak nakal, persentase anak-anak yang suka mencuri sangat tinggi.
Jenis Pencurian
Pencurian dapat dibagi dalam beberapa jenis:
1. Terencana Pencurian ini dilakukan dengan terencana rapi sehingga tidak mudah diketahui.
2. Tak Terencana Pencurian dilakukan tanpa rencana detail.
3. Insidental Perilaku pencurian dilakukan secara tiba-tiba dan sewaktu-waktu saja.
4. Kebiasaan Pencurian sudah menjadi kebiasaannya dan juga berulang-ulang dilakukan.
5. Memilih Yang dicuri hanya barang-barang tertentu yang dipilihnya.
6. Asal Mengambil Barang apa saja semua dicuri, tidak peduli benda itu berharga atau tidak berharga.
7. Perorangan Pencurian dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan sendirian, tanpa diketahui orang lain.
8. Kelompok Mencuri secara berkelompok dan umumnya dilakukan dalam kelompok atau geng anak-anak nakal.
9. Mencopet Hampir sama dengan jenis asal mengambil (no.6), hanya dilakukan lebih terencana.
10. Merampok Pencurian dilakukan dengan masuk ke rumah orang, dengan menggertak dan melakukan kejahatan.


·         Penyebab Masalah
            Sebab dasar dari sifat mencuri adalah karena kejatuhan manusia ke dalam dosa sehingga mengakibatkan manusia sejak kecil cenderung berbuat dosa. Dari fakta ini dapat ditemukan beberapa unsur sebagai berikut:
            1. Adanya keinginan untuk memiliki. Karena keinginan untuk memiliki begitu menggoda, maka anak melakukan pencurian. Keinginan ini dapat timbul karena anak sering kurang mampu
 menguasai diri. Ini biasa terjadi bila anak terlalu dilindungi. Anak akan lebih sering lagi mencuri bila orang tua tidak menyelidiki mengapa barang atau uang dalam rumah sering hilang, atau ibu tahu anak telah mengambil barang di toko, lalu dibayarkan secara diam-diam. Dengan demikian anak semakin terjerumus ke dalam kebiasaan yang buruk. Penyebab lain bisa karena anak lahir dari keluarga miskin. Kemiskinan telah merisaukan dirinya. Apa yang menjadi kebutuhannya tidak dapat terpenuhi, selain dengan mencuri.
            2. Tidak ada pendidikan moral dalam keluarga. Dalam keluarga harus ada pendidikan moral yang benar. Sekalipun pada hal-hal yang kecil, namun bila disertai dengan ketamakan akan merangsang anak untuk mencuri, baik itu mencuri bunga, buah, alat-alat atau barang-barang milik orang lain. Tidak adanya pendidikan moral dalam keluarga akan mudah menjadikan anak-anak mempunyai kebiasaan mancuri.
            3. Sekadar menarik perhatian. Ada anak yang mencuri karena ingin menarik perhatian orang tua atau gurunya. Apabila ia tidak dapat memperoleh perhatian dengan cara yang benar, maka ia melakukannya dengan cara mencuri untuk memperoleh perhatian itu. Upaya menarik perhatian itu meskipun negatif, bahkan mungkin ia dimarahi atau dihukum, tetapi konsekuensi itu lebih baik daripada tidak diperhatikan. Tindakan pencurian ini lebih karena unsur kekurangan moral ketimbangan masalah kejiwaan.
            4. Mengharapkan untuk diterima. Kadangkala ada anak yang memiliki perasaan rendah diri, tetapi sangat berharap untuk dapat diterima, namun tidak ada bakat yang menonjol atau paras muka yang cakap yang dapat dijadikan alasan untuk diterima. Oleh karena itu supaya dapat diterima sebagai teman, ia lalu mencuri uang dan dengan uang curian, ia mengundang makan dan memegahkan diri di hadapan teman-temannya.
            5. Terperangkap oleh jiwa yang memberontak. Anak merasa tidak puas setelah ditegur dan dihukum oleh orang tua atau guru, lalu mencuri untuk melawan. Ada juga anak yang karena merasa ayah dan ibunya lebih mencintai saudara yang lain, ia mencuri untuk melawan.
            6. Ingin menonjolkan rasa kebersatuan. Karena ingin menonjolkan rasa kebersatuan yang tinggi, seorang anak melakukan pencurian bersama-sama dalam satu kelompok. Dalam kelompok itu, mereka merasakan adanya suasana kebersamaan dan juga timbulnya rasa kebanggaan terhadap kepahlawanan seseorang sehingga mencuri dianggap sebagai terobosan untuk menikmati kebahagiaan.
            7. Gejala penyakit. Mencuri merupakan gejala penyakit. Ini mungkin terjadi karena konflik dalam jiwanya sehingga mengalami karakter yang terbagi dan perilakunya berbeda dengan biasanya.

·         Penyelesaian Masalah
            Bagaimana membantu anak untuk mengatasi masalah kebiasaan suka mencuri ini? Diharapkan beberapa cara penyelesaian di bawah ini dapat memberikan petunjuk kepada orang tua dan guru.
            1. Mencukupi kebutuhan anak. Banyak anak suka mencuri karena keinginan yang dibutuhkan belum terpenuhi. Sebaiknya orang tua mengoreksi diri, apakah ada kebutuhan anak yang belum dicukupi? Kelalaian itu bisa terjadi dalam bentuk: tidak memberi makanan yang bergizi, atau tidak menyediakan alat tulis yang dibutuhkan, atau keperluan sehari- hari lainnya. Semuanya itu akan membuat anak tergoda untuk melakukan pencurian.
            2. Memberi perhatian yang cukup. Ada pencurian karena adanya ketidakstabilan dalam jiwa anak. Orang tua yang sibuk hanya tahu mencukupi kebutuhan anak secara materi, tetapi melalaikan kebutuhan rohaninya. Bila anak itu sehat, puas dan stabil jwanya, tidak mungkin ia mencuri untuk mencari perhatian orang dewasa.
            3. Mengenali pergaulan anak. Ketika diketahui anak mulai suka mencuri, segera selidiki lebih dahulu tentang teman-temannya. Apakah ia bergaul dengan teman- teman yang berperangai buruk, yang menganggap mencuri itu satu keberanian atau mereka diancam untuk mencuri. Jika benar teman- teman itu yang bermasalah, maka dengan sabar orang tua harus mengajar anak dan menjelaskan akibat buruk dari mencuri itu.
            4. Menyelidiki motivasinya. Selain unsur di atas, mungkin masih ada motivasi yang tersembunyi yang mendorong anak itu mencuri. Cobalah untuk mengetahui kehidupan sosial anak itu, mungkin mereka sedang berpacaran atau sedang terjerumus pada obat-obat terlarang seperti: ganja atau minuman keras. Bila orang tua dengan teliti menyelidiki motivasi anak mencuri, maka akan lebih mudah mengatasi masalahnya.
            5. Memasukkan konsep nilai yang benar. Sejak kecil orang tua sudah harus mendidik perbedaan antara "ini milik kamu" dan "ini milik saya". Jangan membiarkan anak sembarangan mengambil barang orang lain. Kalau dalam tas atau di saku ditemukan barang milik teman, anak harus segera mengembalikannya. Menerapkan konsep yang benar harus disertai dengan teladan yang baik supaya anak tidak tamak terhadap hal apa pun sekalipun itu hal yang kecil atau sembarangan meminjam barang milik orang lain. Berikanlah penghargaan dan pujian bila mereka mampu mengurus atau mengatur barangnya sendiri.
            6. Melakukan usaha secara bersama. Jika anak sendiri tidak berniat untuk membuang kebiasaan yang jelek, meskipun orang tua atau guru memaksa atau menekan mereka, hasilnya tetap akan sia-sia. Usahakanlah untuk bekerja sama dengan anak, menasihati dan menjelaskan sebab-akibat dari tindak mencuri, atau membantu mereka untuk mencari jalan ke luar yang bisa dilakukan, kemudian berdoalah bersama mereka agar bersandar pada anugerah Tuhan untuk hidup dalam kemenangan.
            7. Mendidiknya dalam kebenaran. Bunyi perintah dalam Sepuluh Hukum Allah sangat jelas, "Jangan mencuri!" (Kel. 20:15). Hati nurani manusiapun berbicara bahwa mencuri itu dosa dan Allah akan menghukum dosa itu. Apabila anak itu dalam kelemahannya telah berbuat dosa, berikan pengertian bahwa ia tetap dikasihi, apalagi oleh Allah. Apabila sebagai orang dewasa dapat memaafkan mereka, maka Allah pun dapat mengampuni mereka. Pujilah Tuhan, seperti apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus, bahwa "segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Flp. 4:13). Setelah dibimbing, anak mungkin masih dapat lupa dan jatuh lagi, tetapi dengan seringnya diingatkan serta diawasi dan didoakan, tetap ada pengharapan bahwa Allah akan mengubah mereka dan mengenakan jubah yang baru kepada mereka sehingga buah kebenaran dihasilkan melalui dan di dalam hidup mereka. [2]

Anak yang Penakut
Pengertian Masalah
            Ketakutan adalah suatu reaksi emosi yang timbul karena adanya ancaman yang ada di benaknya. Ungkapan perasaan ini dapat menyatakan adanya ketidakseimbangan dalam jiwanya, misalnya menjadi cemas dan gugup, atau juga menyatakan reaksi fisiknya seperti jantung yang berdebar cepat. Kadang-kadang dengan hati yang penuh ketakutan dapat menghindarkan diri dari bahaya dan menolong diri untuk tetap berusaha memiliki semangat hidup.

Hal-Hal Yang Membuat Anak Takut :
·         Takut terhadap orang asing.
            Sebagian pakar ilmu jiwa beranggapan bahwa takut terhadap orang asing merupakan pengalaman yang harus ditempuh oleh seorang anak pada masa pertumbuhannya, khususnya seorang bayi. Untuk mencegah takut ini menjadi hal yang berkepanjangan, sebaiknya orangtua mengusahakan agar anak lebih banyak bertemu dan bergaul dengan orang lain, misalnya membawanya ke rumah kerabat atau sahabat dan bermain dengan anak sebaya. Usaha ini harus dilakukan dengan sabar dan jangan terburu-buru atau sedikit dipaksa. Seorang guru Sekolah Minggu pun harus dapat dengan sabar mendorong anak untuk bergaul dengan orang yang dianggap asing sampai akhirnya berkenalan dan terjalin hubungan yang baik dengannya.

·         Takut berpisah dengan orangtua.
            Anak usia satu tahun sering mengalami ketakutan. Baru setelah semakin besar, anak bisa mengerti bahwa perpisahan itu hanya sementara. Namun bila sampai berkelanjutan dapat menimbulkan masalah. Jadi orangtua perlu membina kepercayaan anak terhadap dirinya. Berlakulah jujur dan terus terang mengatakan ke mana, apa tujuan orangtua pergi dan kapan mereka kembali. Kepercayaan anak terhadap orangtua dapat memberikan rasa aman kepadanya dan menghilangkan ketakutannya sewaktu harus berpisah dengan orangtua.

·         Takut terhadap benda aneh.
            Anak yang masih kecil penuh dengan daya imajinasi dan masalah akan timbul bila daya imajinasinya dikuasai oleh ketakutan. Mereka sering takut kepada benda/binatang aneh karena ia membandingkan apa yang ada dalam pikirannya tentang cerita hantu, nenek sihir, dan yang lainnya. Mereka belum mampu membedakan antara yang khayal dan yang nyata. Cara menolong mereka ialah dengan memperhatikan acara teve yang ditonton, buku cerita/ dongeng yang dibaca, dan kemudian memberikan pengertian bahwa kebanyakan cerita hantu, nenek sihir, dan sebagainya itu hanyalah cerita khayalan belaka, dan membimbing mereka untuk percaya bahwa dengan penyertaan Tuhan Yesus, mereka tidak perlu takut.
·         Takut terhadap binatang atau serangga.
            Ini merupakan gejala lain yang menimbulkan ketakutan bagi seorang anak, bahkan bisa berlanjut hingga masa remaja. Binatang yang ditakuti umumnya adalah anjing, tikus, kecoa, laba-laba, dll. Untuk mengurangi ketakutan terhadap binatang bersikaplah ramah terhadap binatang yang tidak dapat melukai. Buanglah konsep ajaran yang salah yang ditimbulkan dari gambar/kartun, buku cerita atau dari acara teve mengenai binatang-binatang. Beritahukan bahwa ada kebaikan dari setiap binatang, misalnya anjing untuk menjaga rumah dan bila tidak diganggu, anjing tidak akan menggigit. Beberapa binatang ada yang mengeluarkan suara yang menakutkan, itu sebenarnya hanyalah ciri dari binatang itu sendiri, seperti manusia juga ada yang bicara dengan suara keras. Allah menciptakan beraneka macam binatang dan semuanya baik adanya serta Allah berpesan agar kita memelihara dan melindungi mereka (Kejadian 1:26).

·         Takut akan kegelapan.
            Bukan saja anak yang takut pada kegelapan, tetapi ada juga orang dewasa yang takut pada kegelapan; ini merupakan gejala yang umum. Ketakutan ini biasanya dinyatakan bila anak tidak mau tidur bila tidak ditemani ibu, lampu tidak boleh dipadamkan, takut pada suara-suara atau bayang-bayang. Pencegahan mudah dilakukan, yaitu dengan mengajak mereka bermain "petak-umpet", di mana anak ditutup matanya dan disuruh mencari, atau dengan menyalakan lampu kecil/lampu tidur, menemaninya sampai tidur dan menyalakan lampu di luar agar ada sinar yang masuk ke ruang tidur. Atau pintu kamar dibuka dan lampu dipadamkan. Cara terbaik adalah dengan meyakinkan pada mereka Allah beserta mereka, ajak mereka sebelum tidur berdoa untuk menolong meyakinkan bahwa Allah beserta mereka sehingga tidak perlu takut.

·         Takut pada petir/kilat.
            Bencana alam mengakibatkan banyak orang kehilangan rumah atau meninggal. Peristiwa mengerikan itu sering ditayangkan di layar teve dan sangat mempengaruhi baik anak maupun orang dewasa yang menyaksikannya. Petir/kilat yang keras juga merupakan fenomena alam yang menakutkan. Bagaimana membantu anak yang takut pada petir? Bila ada tanda akan ada petir/kilat, pangkulah si anak dan mengajaknya bersama untuk melihat sinar petir/kilat itu dari jendela rumah sambil menjelaskan dari mana asal petir. Sikap demikian dapat menenangkan anak dari ketakutannya, ditambah pula dengan penjelasan bahwa Allah adalah pencipta alam semesta, bencana alam tidak akan terjadi bila tidak dikehendaki Allah.

·         Takut pergi ke dokter.
            Banyak anak takut pergi ke dokter umum atau dokter gigi. Oleh sebab itu, banyak dokter yang dengan bermacam upaya mengusahakan supaya anak dapat merasa tenang dan nyaman sewaktu diperiksa, misalnya dengan mainan untuk menghilangkan ketakutan anak. Dapat juga melalui permainan dokter-dokteran untuk mempersiapkan hati anak ketika mau pergi ke dokter. Usahakan jujur ketika anak bertanya apakah sakit bila gigi ditambal, misalnya dengan jawaban seperti, "Kalau lubang gigi itu besar akan sakit bila ditambal, tetapi kalau tidak ditambal, akan lebih sakit lagi." Mendampingi mereka atau mengajak mereka berdoa di depan dokter gigi ketika gigi mereka akan dicabut, dapat mengurangi ketegangan, ketakutan, serta rasa sakit mereka.

·         Takut pergi ke sekolah.
            Akan menjadi masalah bila sampai usia sekolah, anak masih takut untuk pergi ke sekolah. Perasaan takut ini disimpan bertahun- tahun di bawah sadarnya, dan akibatnya anak menjadi rendah diri, sering gagal, gelisah dalam belajar, dan sulit berkonsentrasi ketika belajar. Selain masalah pelajaran, juga ada masalah keluarga sehingga anak mengalami dua tekanan yang membuat mereka takut untuk terus maju. Sewaktu menghadapi ujian, karena terlalu tegang, mereka lupa apa yang sudah dipelajari. Lambat laun mereka takut bertemu dengan guru, teman, dan juga takut pergi ke sekolah. Tidaklah bijak bila membantu anak ini dengan gertakan, sebaiknya dengan sabar orangtua memberi dorongan untuk menjalin hubungan yang baik dengan teman-teman; jangan membiarkan ia menyendiri di sekolah, jangan mengkritiknya bila gagal.

Penyelesaian Masalah
·         Menguasai lingkungan.
            Mengatur suatu lingkungan pengalaman yang menyenangkan supaya perasaan ketakutan secara perlahan-lahan menjadi hilang. Misalnya anak yang takut gelap, biarkan dia perlahan-lahan mendekati sendiri kegelapan itu, bermain tutup mata untuk mencari sesuatu, atau dengan memasang lampu yang bersinar lembut untuk mendampingi mereka tidur malam. Bantu mereka bertumbuh dalam lingkungan yang nyaman.
·         Meredakan ketegangan.
            Untuk menenangkan emosi yang sedang mencekam, suruhlah anak menarik napas panjang, kemudian tangan diulur ke depan sambil dikepalkan dan diam sejenak, selanjutnya angkat kaki kiri dengan kedua tangan dieratkan dan diamkan sejenak, lalu ganti kaki kanan dan lakukan gerakan tadi. Ulangi terus gerakan-gerakan tersebut sampai anak merasa tenang dan tidak tegang lagi.

·         Menggunakan daya imajinasinya.
            Menolong anak menghilangkan rasa takutnya dapat juga dengan menggunakan daya imajinasinya. Anak dibimbing untuk berimajinasi bagaimana Yesus menemani mereka di dokter atau pada waktu duduk di kursi dokter gigi.

·         Mempelajari sesuatu melalui observasi.
            Bila orang dewasa gugup, anak pun akan ikut gugup, namun mereka dapat dibimbing melalui observasi belajar untuk mengurangi rasa takut dan gugup itu. Caranya adalah dengan menyuruh mereka belajar dari teman sebaya sewaktu menghadapi situasi yang sama, tetapi tidak takut, atau dengan menyaksikan film di acara teve di mana anak dapat menghadapi situasi yang tegang tetapi tetap dapat tenang.

·         Menjelaskan konsep dengan tepat.
            Salah dalam menggunakan daya imajinasi atau kurangnya pengetahuan umum dapat membuat anak takut pada sesuatu yang belum diketahuinya. Memberikan penjelasan tentang asal mula gejala- gejala yang membuat mereka takut akan sangat menolong mereka.

·         Memberikan pujian.
            Mungkinkah memberi pujian dapat mengurangi rasa takut seseorang? Pujian bukan hanya memberikan sesuatu benda, tetapi bisa juga dalam bentuk seperti: ucapan semangat yang mendorong atau memberikan hak/wewenang. Misalnya, bila ia berani melakukan apa yang tadinya ditakuti, ia boleh menonton teve dengan waktu yang lebih panjang, atau bermain lebih lama. [3]
Anak Hiperaktif
            Pengertian Tentang Anak Hiperaktif
            Anak yang hiperaktif umumnya bersifat agresif, penuh semangat, tidak dapat tenang, sulit diajar, tidak tahan lama melakukan satu aktivitas. Biasanya juga sulit bergaul dengan teman sebaya, tidak mampu menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru dan juga sulit menaati orangtua dan guru. Setelah dewasa umumnya mengalami masalah dalam emosi, suka bermabuk-mabukan atau melakukan pelanggaran hukum. Sebenarnya keaktifan itu tidak mereka inginkan, namun mereka sulit untuk duduk dengan tenang dan memperlambat gerakan mereka karena mereka didorong oleh suatu kekuatan yang sulit dijelaskan, dan sulit diubah. Pada tahun 1845, Dr. Heinrich Hoffmann mengumpulkan cerita anak-anak yang berisi pelajaran moral dan kemudian melalui penelitian tersebut mengunakan istilah yang berbeda untuk melukiskan sifat hiperaktif. Dan melalui pengamatan, kira-kira di tahun 1902, Dr. G.F. Still menguraikan bahwa ada beberapa perilaku tertentu yang menjadi ciri anak-anak tersebut. Tetapi sebelum menyelidiki secara akurat, ia sudah tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan bahwa perilaku tersebut adalah hasil dari kesalahan pendidikan keluarga. Setelah itu dalam banyak tahun bermunculanlah istilah-istilah, seperti: perhatian, deficit disorder, masalah perilaku fungsional, dyslexia, sindrom anak hiperaktif, sindrom impulsif hiperkinetik, ketidakmampuan dalam belajar, sindrom kerusakan otak minimal, ketidakmampuan belajar secara khusus, dan sebagainya.



            Pernyataan Masalah
·         Masalah intelek.
Anak hiperaktif jelas mengalami gangguan dalam otak. Ia sulit menentukan mana yang penting dan mana yang harus diprioritaskan terlebih dulu, selain sulit menyelesaikan pelajaran, sering tidak dapat berkonsentrasi dan pelupa. Adakalanya mereka sulit mengerti pembicaraan orang secara umum, apalagi terhadap petunjuk yang mengandung langkah-langkah atau tahapan-tahapan. Ia sulit menggabungkan satu hal dengan hal lainnya, kurang kendali diri, tidak dapat berencana atau menduga apa akibat yang dilakukannya, susah bergaul, kemampuan belajar lemah. Daya pikir penangkapannya lemah sehingga sulit untuk menghadapi pelajaran matematika. Karena mengalami luka di otak, mereka sering tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan, khususnya ketika masuk ke suasana kelas yang dinamis, emosinya menjadi mudah terangsang. Perilaku yang sulit diduga itu kadang membuat orangtua, guru atau teman-temannya merasa khawatir.
            Kadangkala mereka sadar harus mematuhi peraturan, tetapi tidak mampu mengendalikan diri. Ia juga mengalami kesulitan dalam mengutarakan pikiran dan perasaan melalui kata-kata, sering kacau dalam menanggapi citra yang diterima, misalnya: "m" dengan "w", "d" dianggap "b" atau "p" dianggap "q", dan sebagainya sehingga mengalami kesulitan dalam membaca.

·         Masalah biologis.
            Mereka suka sekali berlari-lari dan sulit untuk menyuruh mereka diam, sepertinya sedang begitu sibuk melakukan sesuatu sehingga tidak dapat beristirahat, meraba, dan menyentuh benda-benda untuk merasakan lingkungan di sekitarnya, suka berteriak dan ribut, semangatnya kuat. Anak hiperaktif juga peka terhadap bahan kimia, obat, bulu, debu, dan barang kosmetik. Mereka juga sensitif terhadap makanan tertentu, seperti: coklat, jagung, telor ayam, susu, kedelai, daging, babi, gula, dan gandum. Mereka sulit tidur dengan nyenyak dan mudah terbangun, dan kebiasaan tidur mereka bermacam-macam: ada yang bermimpi sambil berjalan, menggigau atau mengompol. Mereka tidak dapat berolahraga dengan banyak gerak dan banyak tenaga, seperti bersepeda atau lompat tali. Sebaliknya gerakan tenang pun bermasalah, misalnya bila disuruh menulis, mewarnai, atau menggambar, mereka tidak dapat menggunakan alat tulis dengan baik.

·         Masalah emosi.
            Anak hiperaktif umumnya bersifat egois, kurang sabar, dan emosional, bila berbaris selalu berebutan, tidak sabar menunggu, bermain kasar, suka merusak, tidak takut bahaya, dan sembrono sehingga besar kemungkinan bisa mengalami kecelakaan. Pernyataan emosinya sangat ekstrim dan kurang kendali diri. Juga emosi sering berubah-ubah sehingga tidak mudah diduga, kadang begitu senang dan ceria, tetapi sebentar kemudian marah dan sedih. Seorang ahli berpendapat bahwa yang sangat dibutuhkan mereka adalah melatih mereka untuk dapat mengendalikan diri.
·         Masalah moral.
            Karena mengalami berbagai masalah seperti di atas, maka mereka pun tidak memiliki kepekaan dalam hati nurani. Ia bisa mencuri uang orangtua atau permen di toko, tidak mengembalikan barang yang dipinjam, masuk ke kamar orang lain, mencela pembicaraan orang, mencuri dengar pembicaraan telepon orang lain sehingga kesan orang banyak adalah anak ini bermasalah dan bermoral rendah.



Penyelesaian Masalah
            Ada banyak orangtua yang tahu bahwa penyebab anak berperilaku demikian hanya karena masalah biologis, lalu menanggapinya tidak dengan serius, tetapi ada juga yang menanggapi secara serius dan menghajarnya ketika mereka berperilaku agresif. Namun bila terus- menerus dihukum dan dipukul, tidak akan mempan terhadap anak seperti ini. Lalu bagaimana cara mengajar mereka?
·         Penggunaan obat.
            Dokter umumnya menganjurkan penggunaan obat untuk menolong anak yang hiperaktif, dan hal itu pun sudah dibuktikan bermanfaat dalam menenangkan mereka. Jikalau masalahnya cukup serius dan penyebabnya bukan masalah emosi, maka penggunaan obat harus sesuai dengan petunjuk dokter dan jangan sampai ada efek sampingannya. Penting sekali untuk berkonsultasi dengan dokter ahli saraf.

·         Pengaturan makanan.
Dalam konsultasi dengan dokter sebaiknya orangtua menanyakan apakah anaknya itu alergi terhadap satu macam makanan dan apakah perlu ada pengendalian terhadap makanan, sebab ada banyak bukti terhadap kebenaran ini.

·         Hindarkan pemanjaan.
            Anak jangan dimanjakan kalau tahu bahwa penyebab hiperaktifnya karena masalah biologis. Orangtua harus bertahan dengan peraturan yang telah diberikan dan menuntut anak agar menaatinya. Tunjukkan dengan mantap dan wibawa bahwa orangtua ingin ditaati oleh anak-anaknya supaya pernyataan ini juga memberi rasa aman kepada anak. Sikap bertahan ini bukan berarti kejam, keras, diktator atau berhati baja, tetapi sebaliknya justru untuk membina dan mengajar anak tentang apa yang harus mereka lakukan.

·         Menciptakan lingkungan yang tenang.
            Usahakan untuk menciptakan suasana yang tenang di tempat anak itu biasa bergerak, misalnya: di kamar atau di ruang bermain. Bila lingkungan tempat tinggalnya sangat bising, sebaiknya pindah rumah agar anak itu dapat bertumbuh dalam situasi yang baik.
·         Memilih acara teve dengan hati-hati.
            Acara teve yang menampilkan adegan kekerasan, lagu yang ribut dan sinar yang bergerak menyilaukan, dapat merangsang anak dan mengakibatkan mereka emosional. Cegahlah anak untuk meniru adegan-adegan yang tidak baik. Oleh sebab itu, pilihlah acara teve yang beradegan lembut dan baik.
·         Gunakan tenaga ekstra dengan tepat.
            Anak ini kurang dapat mengendalikan diri dan apabila sikap agresifnya dapat disalurkan dalam aktivitas yang tepat, maka itu akan mengurangi keonaran, misalnya dengan mengizinkan dia mengikuti aktivitas di luar rumah atau membuat pekerjaan rumah bersama teman atau mengikutsertakan dalam proses belajar mengajar di kelas, sehingga dengan demikian ia dapat menyalurkan tenaga ekstranya dengan benar.
·         Membimbing dalam kebenaran.
            Meski anak hiperaktif sering tidak mampu menguasai diri dengan perilakunya, orangtua atau guru tidak seharusnya bersikap acuh dan menyerah. Setiap perilaku yang tidak dapat diterima harus dicegah, kemudian tentukan suatu standar yang sesuai dengan kebenaran. Perlu ada kesabaran untuk mengajarkan hal ini, walaupun harus dilakukan berulang-ulang. Bila orangtua tidak putus asa, anak akan mempunyai harapan untuk disembuhkan. Didiklah mereka selalu, untuk berdoa kepada Tuhan dan bersandar pada pertolongan-Nya. Jika mereka berbuat dosa, mohonlah pengampunan kepada Allah karena Ia telah berjanji, "Jika engkau mengaku dosa, Allah itu setia dan adil, Ia akan mengampuni dosa kita menyucikan segala kesalahan kita" (1Yohanes 1:19). Maka sejauh mereka mampu mengendalikan perilaku mereka, kebenaranlah yang harus menjadi dasar yang harus mereka tuntut.[4]

Anak Agresif
            Dari penyebab masalah anak yang suka menyerang di atas, orangtua harus mengupayakan cara pencegahan, dengan menghindari dan menyembuhkan masalah perilaku tersebut. Langkah berikut ini diharapkan dapat menolong mengurangi perilaku anak yang agresif dan suka menyerang.

            1. Membangun diri sebagai model/contoh. Apabila kelakuan anak itu disebabkan karena meniru orang dewasa yang suka memaki, orangtua yang suka memukul atau guru yang agresif, maka sebaiknya dilakukan introspeksi diri. Dengan menjaga serta membangun diri menjadi teladan yang baik, akan menolong anak mengatasi perilakunya itu.

            2. Menasihati dengan benar. Disiplin di dalam rumah tangga harus dipertegas untuk membantu anak mengendalikan diri agar tidak bertindak sewenang-wenang. Sebenarnya anak yang suka menyerang ini mempunyai rasa takut yang amat kuat dalam dirinya. Apalagi ketika anak melempari ibunya dengan sebuah botol, ia amat ketakutan dan segera mencari pertolongan dari gurunya untuk membantu mengatasi pergumulan emosinya itu. Ia akan berkata, "Ketika saya marah dan melempar ibu dengan botol, saya amat ketakutan, apa yang terjadi bila saya benar-benar marah dan mencekik ibu, saya terlalu takut membayangkannya. Anak memerlukan bantuan orang lain dalam mengatasi ketidakmampuan mengendalikan dirinya. Ia membutuhkan nasihat dan ajaran yang benar.
            3. Membatasi tontonan beradegan keras. Bila anak memiliki kecenderungan bertindak agresif dan suka menyerang, orangtua perlu dengan bijaksana mendampingi anak dalam memilih acara tontonan di teve. Sebaiknya kepada anak hanya diperbolehkan menonton acara atau film yang sesuai untuk anak. Kecenderungan sifat manusia adalah pada hal-hal yang berdosa dan jahat sehingga anak sangat mudah dipengaruhi untuk meniru apa yang dilihatnya. Larangan untuk jangan melakukan kekerasan atau melukai orang lain bukanlah suatu ajaran yang baru. Dalam Alkitab ada banyak contoh orang-orang yang berbuat seperti itu. Demikian juga melalui drama dari Shakespeare, atau dongeng yang menceritakan binatang aneh yang memakan manusia. Oleh sebab itu, tanggapilah masalah ini dengan sikap yang wajar dan tenang. Yang kita lakukan hanyalah usaha membatasi acara tontonan anak di teve.
            4. Tanamkan kebenaran bahwa tidak memiliki musuh itu adalah kasih. Cara yang paling baik untuk mencegah anak melakukan kekerasan adalah dengan "kasih". Anak yang sejak kecil terampas kasih sayangnya akan merasa mempunyai banyak musuh dan ia akan melakukan banyak kekerasan. Seorang pembunuh atau yang suka melukai orang lain, jiwanya sakit dan gelisah. Mereka dapat melakukan kejahatan itu karena tidak menikmati kehangatan kasih. Menghadapi anak yang berperilaku demikian hanya ada satu cara, yaitu dengan mengasihi dan menyayanginya. Daripada membuang waktu untuk mencegah anak terpengaruh, lebih baik menyediakan waktu untuk meningkatkan hubungan dengannya. Dengan demikian kita mengalihkan perhatian mereka untuk bisa memperhatikan dan berbelas kasihan kepada orang lain. Anak yang dibesarkan dalam kasih akan memiliki jiwa yang sehat, hati yang penuh damai terhadap orang lain, dan tidak pernah memendam perasaan dendam kepada siapa pun. [5]


TANGGAPAN PRIBADI
            Anak membutuhkan didikan, bimbingan dan bantuan dalam pertumbuhan moral dan kerohanian mereka. Anak-anak memiliki hak untuk menerima pendidikan yang layak di tengah-tengah masyarakat. Namun, ada beberapa budaya dunia yang menempatkan anak sebagai pihak yang lemah, disiksa secara fisik, mental, dan intelektual.
             Dalam buku ini Mary Go Setiawani memberi pemaparan yang menyentuh tentang betapa banyaknya anak di berbagai belahan dunia yang mendapat perlakuan tidak pantas dari lingkungan masyarakat, bahkan dari orang tua mereka sendiri. Dalam bukunya "Menerobos Dunia Anak", kita dibawa kepada suatu pemikiran yang mendalam tentang pentingnya membentuk karakteristik anak melalui pendidikan sejak usia dini. Buku ini dilengkapi dengan tahapan-tahapan pertumbuhan anak, baik secara jasmani, rohani, dan psikologi. Hal ini memudahkan kita untuk menyesuaikan jenjang pendidikan seperti apa yang sesuai untuk diterapkan terhadap seorang anak.
            Hal yang paling unik dan menarik dari buku ini adalah pembahasan yang tajam tentang masalah-masalah biologis yang bisa saja dihadapi oleh kebanyakan anak, misalnya masalah kekurangan gizi, ayan, gangguan pendengaran, buta warna, dan masalah lainnya. Pembahasan tersebut juga disertai dengan penyelesaian masalah secara sederhana yang bisa dilakukan oleh setiap orang yang mengemban pelayanan dalam dunia anak. Secara keseluruhan, buku ini akan sangat menolong bagi Anda yang bergumul dalam masalah pendidikan anak, baik di dalam rumah tangga, sekolah-sekolah, play group maupun di Sekolah Minggu.
            Buku ini dapat menjadi oase di antara buku-buku pendidikan anak yang marak di pasaran. Karena buku ini tidak hanya memberi kontribusi dalam hal yang berkaitan dengan psikologi anak yang "up-to-date", tetapi juga, mengikutsertakan dasar-dasar pengajaran yang bersumber pada Alkitab.





                [1] Hlm 29
                [2] Hal 145 – 150

                [3] Hal 123 – 124


            [4] Hal137 – 141

            [5] Hal156 - 159